Masih dari Food Series (Post sebelumnya tentang Korean Food bisa di lihat di SINI )
Dan masih seputar Korean Food,
Kali ini saya nyoba cafe yang satu ini.
Nama cafenya:


Dari Oppa

Namanya unik dan lucu.
Yuk, Langsung saja capcuss ke sana....

Alamatnya bisa dilihat di peta di bawah ini.
Yaitu di Jl. Gowongan Kidul No.17, Gedong tengen, Kota Yogyakarta, DIY




Satu kesan yang pertama kali muncul di benak waktu pertama kali ke sini adalah SIMPLE.
Dan perkiraan saya gak salah. Cafe yang satu ini emang simpel. 
Bisa dilihat dari tempat dan menunya yang simpel.
Ini juga yang agak disayangkan dari cafe ini, yaitu pilihan menunya yang sedikit atau terbatas.
Tapi karena mungkin memang ini konsep dari cafe ini yang konsepnya lebih ke kantin daripada cafe.
Pengelola dari cafe ini juga bagian dari Gongsin, yaitu salah satu Lembaga Pendidikan Bahasa Korea berbasis e-learning, yang letaknya persis bersebelahan dengan cafe ini.

No more words, langsung pesan! :)


Dari Oppa (3)

Bibimbap. 25k. Relatif murah untuk harga bibimbap, tapi tidak mengecewakan kok. Bisa untuk alternatif yang lagi kepingin bibimbap tapi kantong lagi kering :)


Dari Oppa (4) 
Patbingsu. 15k. Lumayan untuk penyegar dahaga di tengah teriknya Jogja ;)

Dari Oppa (2)
Ddokbogi. Tidak mengecewakan :)

(just for aestetic pupose ;) )

Dari Oppa (6)
Suasana Dari Oppa Cafe

Dari Oppa Cafe sama sekali tidak mengecewakan. 
Walaupun menunya terbatas, tapi untuk harga yang terjangkau, cafe ini worth to try!
Bagi yang mau nyoba makanan korea yang simpel dan terjangkau, cafe ini bisa jadi salah satu pilihan.

Range harga :
Food : 5-25K
Beverages : 1-15K

Really, not bad right? *winkwink

Ok, see ya di Food Series Selanjutnya! 


Seiring mewabahnya per-korea-an di berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia, budaya Korea juga perlahan masuk ke masyarakat Indonesia. Termasuk saya juga. :)

Kalo denger kata Korea, anak ABG jaman sekarang (bener-bener sekarang ini loh ya) pasti ya nyebutnya Lee Min Ho, EXO, blablablabla...

Saya gak akan menyebutkan siapa yang terkenal pas jaman saya, nanti ketahuan umur udah tua haha...

Anyway...

Salah satu yang ikut kebawa sama per-Korea-an ini adalah kulinernya.
Hampir mirip waktu jaman makanan Jepang mewabah di Indonesia, perlahan tapi pasti, banyak restoran korea bermunculan di Indonesia.
Contohnya aja di tempat saya tinggal sekarang, Jogja. Sekarang udah lumayan banyak restoran korea bermunculan dari yang harga kantong mahasiswa sampai harga berkantong-kantong..

Udah lumayan lama sebenernya restoran korea mulai bermunculan. Sekitar 5 tahunan yang lalu...
Dan sebenernya cara saya nulis intro di atas udah agak ketinggalan jaman. Maklum udah lama gak nge-blog, bingung mau nulis apa, hehe

Yang jelas saya mau posting salah satu tempat makan korea yang ada di Jogja. Namanya adalah.. JRENG JRENG :

MUSIRO


Musiro ini letaknya di Jl. Gejayan No.33, Sleman, Yogyakarta.
Atau, peta 'bodonya' gini: Dari Jl. Gejayan/Affandi, Sebelum Mirota Gejayan (asumsi dari selatan menuju utara) ada gang namanya Gang Alamanda, masuk dikit, nah di kanan jalan langsung ketemu deh itu... Gampang kan?

Masih bingung? Liat peta aja dah...



 Yuk langsung aja kita masuk!


Musiro 7
Suasana di dalam Musiro

Musiro 6
Beberapa pajangan khas korea

Musiro 8
Di sini kamu bisa tulis testimoni kamu~

Musiro 5
Penampakan testimoni dari dekat.. kebanyakan nyebutin group idolanya... haha


Ddokbogi...

Musiro 4
Ddokbogi lagi....

Musiro 9
Dan Ddokbogi lagi.. ^^

Musiro 2
Bibimbap...

Musiro 3
Bibimbam closed up


Musiro 10
Buddae Jjigae, isnya ada sosis, kecambah, sayuran, kimchi, direbus pake bubuk cabe. Kira-kira seperti ituh /sok tau/


Musiro 11
Penampakan Buddae Jjigae saat belum dibuka


Musiro 12
Minumannya standar, cha sama apa ya lupa...


Musiro 13

Menu di Musiro ini lumayan banyak, dan harganya lumayan bisa dijangkau..

15k-35k buat makanan beratnya,
5k-15k buat sejenis camilan.
buat minuman standar sih, walau agak lupa, tapi sekitar 5k-20k kalo gak salah

Biasanya Musiro ini adalah tempat makan buat yang mau 'coba-coba' masakan korea, selain harganya lumayan terjangkau, rasanya juga not bad...
Jadi buat yang masih soft-core, Musiro bisa jadi salah satu alternatif,
Yang udah hard-core juga gak dilarang buat makan di sini ;)

OK, SEKIAN... SEE YOU.... 



It's like been a decade since my last time take a seat and write some random stuff in here.
But, I'M BACK. LOL. YOU HAPPY RIGHT? RIGHT? *throw flowers*

So.....
I've been active on instagram recently : hestylukita
And forgot that I have blog... lolol
I've create some random project.
And my first project is Beach Project as you can see on my recent instagram post.
It has ended tho.
But I have plan to make another project called :



Sounds fun right? and yummy of course. *wink-wink* 

The reason is.. 
I love eating and have quite lot adventure with that haha. 
And I'm a cafe hopper, so...
There's like THOUSANDS photos of food on my folders and I don't know where to post all of that.

So, I decided to post it here...


WHY YOU DIDN'T POST ALL OF THEM ON INSTAGRAM INSTEAD?

Good question. 

First, bcs there's way a LOT of photos and I think its tiring to post them on insta.
Second, there's also a lot of similar food at the same place and I think its not fun posting similar photo on insta. haha lol.
And the most important is.... I feel glad to comeback here. HAHA.

Ok then, see you on the next post about food series ;)
YEAY... Setelah menulis beberapa postingan tentang Wonosobo Series (bisa dilihat di postingan sebelumnya)  Akhirnya, nyampe di Yogyakarta Series !!! 

Sebenernya, ada satu postingan lagi tentang Wonosobo yang saya tulis di Lomba JaringIde. Tapi karena udah pernah di posting di blog ini juga, langsung baca aja postingannya di SINI... OK?

Yuk, lanjuuut... 
Setelah beberapa postingan tentang tempat-tempat kece di Wonosobo, kita terbang yuk, ke Kota Pelajar alias Yogyakarta. Saya udah di sini sekitar 4,5 tahun. Bisa dibilang Jogja itu rumah kedua saya setelah Wonosobo. 

Kayak logonya Jogja Berhati Nyaman, kota ini memang nyaman. Buktinya aja ribuan perantau dari berbagai penjuru tanah air betah tuh di sini (apa terpaksa ke sini buat sekolah ya? kagak tau deh). Yang jelas banyak yang jatuh cinta sama Jogja dan gak mau balik lagi ke kampung halaman. Banyak wisatawan ato orang luar Jogja yang dateng ke Jogja juga merasakan hal yang sama. 

Saya pernah baca postingan seorang blogger asal Jambi, namanya Ahmad Firdaus yang pernah ke Jogja dan nulis begini :

"Di Jogja gue melihat hal yang unik. Sebuah kota yang rata-rata jalan rayanya kecil, tapi rame. Rame tapi nggak macet. Nah, gimana tuh? pokoknya lo dateng aja deh ke Jogja. Namanya juga Daerah Istimewa. Disana makanannya juga murah-murah. Makan Nasi + Ayam 2 + Es Teh cuma 13 rebu. Pantas aja teman-teman gue yang ngekost di Jogja pada sehat sentosa. " (http://madz666.blogspot.com)

Wait. kita ulangi ya... 
"Jalan rayanya kecil, tapi rame, tapi gak macet." 

Itu pegimane maksudnye? Kok Bisa? 
Bisaa... inilah yang disebut tepa slira alias tenggang rasa. Coba, di kota besar mana kamu nemuin kalo motor dari perempatan mau nyebrang, terus mobil ato motor yang dari jalan utama, tiba-tiba berhenti terus tangan mereka mempersilahkan seakan berkata "Monggo, silahkan jalan duluan." ? Jarang banget ada yang kayak gitu kecuali di Jogja. Setahu saya, kalo di kota gedhe kebanyakan pengendara asal nyrobot dan gak mau kalah. 

Tapi akhir-akhir ini di Jogja juga lambat laun jadi jarang nemuin tepa slira, jalanan tambah rame seiring banyak yang beli mobil sama motor. Dan mulai banyak yang pake rumus penyerobotan. Hiks, sedih... T_T

Terlepas dari itu semua, beneran deh! Berdasarkan pengalaman sayah yang juga seorang perantau dari kota lain, Jogja itu emang nyaman. Dari orangnya yang masih ramah, fasilitasnya yang lumayan lengkap, budayanya yang masih terjaga, makanannya yang murah sampai objek wisata yang bejibun saking banyaknya. Enyak, enyak.... 

Kalo lagi suntuk pengen maen, banyak banget tempat buat sekedar melepas stres, ato cari tempat buat hunting foto-foto bagus. Salah satunya ini nih...

Taman Sari




Saat selir sedang mandi, di tempat istimewa di lantai atas, sang raja melihat selir-selir tersebut dan memilih salah satu yang 'beruntung' untuk menemani Raja pada malam harinya....(ahem ahem) #apasih -_-

Ya, Taman Sari adalah sebuah tempat yang dulunya tempat pemandian para selir kerajaan. Terletak di sekitar Keraton Yogyakarta. Tempat ini sekarang menjadi salah satu objek wisata di Yogyakarta.
Tiket masuknya sekitar Rp.6000 saja. Kalo mau dapat objek bagus buat motret, tempat ini bisa jadi salah satu pilihan. Yuk, intip sedikit ke dalem...


Taman Sari (1)

Taman Sari (3)

Bangunannya indah banget apalagi kalo suasana lagi cerah. Kolam pemandiannya pun jadi keliatan cakep. Langsung tancap deh, jeprat jepret. Hehe...


Taman Sari (4)


Di Balik Tembok Taman Sari

Eits, namanya emang di Balik Tembok Taman Sari, tapi ini bukan cerita mistis, ato terselubung gitu loh yah... 
-Terus mau bahas apanya dong? 
-Sabar, sabar, makanya lanjutin baca.. 

Kalau kamu ke Taman Sari, jangan hanya berhenti di tempat pemandiannya aja. Di Belakang Taman sari juga ada sebuah perkampungan yang terlalu bagus buat dilewatin! 


Taman Sari part 2 (2)

Namanya Kampung Cyber, karena warganya sudah 'melek' teknologi katanya.
Banyak hal yang saya temui di sana. Yang pertama terlintas di pikiran saya adalah : WOW, kampungnya indah.


Taman Sari part 2 (3)

Beneran. Karena kampungnya tertata rapi. Ada beberapa galeri seni, cafe dan dindingnya yang dilukis batik, corak khas Jogja, Galeri seninya pun di tata sedemikian rupa. Jadi para pengunjung sangat nyaman berjalan di kampung ini, sambil melihat galeri seni di sepanjang gang perkampungan. Warganya terlihat ada yang sedang membatik, membuat wayang dan melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menarik perhatian para pengunjung seperti saya. Bener-bener dah, betapa bahagianya dapet objek bagus.. *nari-nari 


So, yang masih di luar,  mari merapat ke mari... :3


Taman Sari part 2 (1)

Taman Sari part 2 (4)

Taman Sari part 2 (6)

Taman Sari part 2 (5)

Segitu dulu deh... Maap kalo tulisannya kali ini agak kacau. Hehe... Ada juga postingan tentang Objek di Jogja yang lain loh... Mampir aja ke SINI. See ya... ! :)
         


Namanya keren : WONOSOBO SQUARE. Tapi nama sebenarnya : Alun-Alun Wonosobo...

Ya Alun-alun.. tempat nongkrong klasik dari jaman baheula sampai sekarang... Yah, emang sih, sekarang lebih banyak tempat nongkrong buat kawula muda. Tapi alun-alun tidak pernah sepi pengunjung. Semua kalangan dari segala umur masih suka tuh main ke sini. Entah cuma mengisi sore hari, olahraga di pagi hari dan masih banyak yang bisa dilakuin di sini.

Namanya aja alun-alun, pastinya lokasinya di pusat kota. Biasanya digunakan buat mengadakan acara seperti upacara besar kayak 17an, ulang tahun kota sampai acara-acara festival.

Ngomong-ngomong tentang alun-alun, hampir semua kota di Indonesia paling tidak memiliki alun-alun. fungsinya pun kurang lebih satu dengan yang lainnya. Tapi Alun-alun di Wonosobo itu ada yang beda sob...

Nah, apa aja yang istimewa dari Alun-alun Wonosobo ini?

Yang pertama, desain Arsitekturnya. Arsitektur taman dan jalan di sekeliling alun-alun didesain khusus. Gak tanggung-tanggung. Katanya (katanya sih) arsiteknya khusus dari Jerman LHO... Entah harus seneng ato sedih dengernya. Keren sih.. tapi kalo kayak gini terus kapan kita bisa bangga sama hasil karya anak bangsa? (Tumben gue lumayan keren)


Wonosobo Square (11)
(spanduknya ganggu -___-)

Wonosobo Square (2)


Yang kedua kebersihannya, jangan khawatir terganggu oleh sampah yang biasa 'nongol' di tempat umum di Indonesia. Alun-alun ini dijamin bersih. Jadi nyaman untuk para pengunjung baik wisatawan maupun warga lokal, bahkan murud-murid sekolah di sekitar situ yang biasa meminjam lapangannya untuk berolahraga.

Wonosobo Square (3)

Yang ketiga fasilitasnya. Banyak fasilitas yang bisa dinikmati. Antara lain pedagang di sekitar alun-alun yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Biasanya pengunjung sengaja ke Alun-alun untuk sekedar makan sambil menikmati suasana di Alun-alun. Selain itu ada berbagai permainan yang dapat dilakukan di sana. Ada sepeda 'Couple', Ottoped, dan masih banyak lagi. Jadi pengunjung bisa menikmati fasilitas tersebut untuk mengelilingi Alun-alun. Bermain gelembung juga menjadi salah satu pilihan favorit pengunjung. Jadi bisa agak-agak romantis, mainan gelembung kayak di pidio klip gitu dah.. :3


Wonosobo Square (10)

Wonosobo Square (8)

Wonosobo Square (7)

Oh, ya.. bukan hanya warga lokal yang menjadi pengunjung Alun-alun. Para wisatawan Dieng juga biasanya menyempatkan diri buat mampir ke Alun-alun ini. Biasanya tujuannya dua. Sight seeing dan WISATA KULINER... YEAH.. #NyamNyam

Nah, itu sekelumit tentang Alun-alun Wonosobo. Gimana menurut kalian? Keren kah atau biasa aja? Soalnya beberapa kali saya melewati atau mengunjungi kota lain, alun-alunnya gak ada yang menandingi kerennya alun-alun ini. Hehe...
Kalau Alun-alun di kotamu lebih keren dari ini, bisa share di comment box yak... See ya... :)


    Wonosobo Square (6) 

Wonosobo Square (4)  
background pemandangannya GUNUNG! kurang keren apa coba...



Petualangan di Wonosobo berlanjut... Yuk Capcyuss...

Next Destination : Telaga Warna



Objek ini salah satu tempat yang lumayan 'WAJIB' dikunjungi oleh para pengunjung Dieng. Letaknya kurang lebih sekitar 5-10  menit dari objek wisata Candi Arjuna kalau pakai kendaraan.


Kenapa namanya Telaga Warna?

Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi di tempat ini yaitu berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar Matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Anda bisa menyaksikan di tengah telaga terdapat letupan air mendidih seperti yang ada di Kawah Putih (Jawa Barat).
Keberadaan Telaga Warna Dieng juga sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka menggunakannya sebagai sumber irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama di kawasan ini. 
(sumber : http://www.indonesia.travel/id/destination/804/telaga-warna-dieng)

Afternoon Shadows at Colour Lake

Waktu itu saya ke sana sore hari... Suasananya DINGIN as always.. Tapi agak hangat dengan terpaan sinar matahari yang mulai tenggelam...
And.. This is what makes me completely jaw drop....


DSCF8532

See?

Ya, saya pernah ke telaga warna waktu pagi, siang dan sore hari. Telaga Warna dalam berbagai suasana, tetap mempesona. Matahari sore menyinari permukaan Telaga hingga menciptakan warna-warna indah dengan bayang-bayang bukit di sekelilingnya... Sinar matahari sore itu pun menembus celah-celah pepohonan di sekitar telaga, membuat setiap orang yang berjalan di sekitar telaga merasakan kehangatannya...


Two Seasons of Colours Lake

Selain berbagai cuaca dan waktu, kebetulan saya ke Dieng juga melalui musim yang berbeda, jadi suasananya juga berbeda. Perbedaan itu bisa terlihat lebih jelas dengan Telaga Warna ini. Perbedaannya bisa dilihat di foto ini.


Telaga Warna (1)

Waktu saya ke sana musim kemarau, air Telaga tidak sampai di pinggir danau. Jadi saya dan teman-teman bisa di bilang 'masuk' ke danau. Saya merasakan seperti menginjak tanah yang lunak dan empuk. Sebenarnya kondisi ini belum lama terjadi. Dulu, waktu musim kemarau pun, air di danau tidak menyusut sebegitu signifikan. Tetapi karena beberapa kerusakan alam, akhirnya berimbas juga pada kondisi danau hingga menyusut seperti itu. How sad.. :(

Pada musim hujan, air danau penuh sampai ke pinggir danau. Seperti melihat danau seperti biasanya... Warna danau-nya pun lebih cerah... Suasana waktu saya ke sana waktu itu juga saat musim liburan, jadi lumayan ramai.

Selain menikmati danau, di Telaga Warna ini pengunjug bisa berjalan di jalan sekeliling danau, menikmati pemandangan danau dan hutan. Jalan setapaknya pun mantap indahnya,... Pengunjung juga bisa mencoba Flying Fox melintasi danau. Patut dicoba!


DSCF9019


Telaga Warna (5)


Bonus : TELAGA PENGILON

Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Padahal yang  membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Itulah kenapa dinamakan 'PENGILON' atau dalam Bahasa Indonesia berati CERMIN. Karena permukaannya yang bening sampai bisa buat ngaca lho... 


Previous PostOlder Posts Home