YEAY... Setelah menulis beberapa postingan tentang Wonosobo Series (bisa dilihat di postingan sebelumnya)  Akhirnya, nyampe di Yogyakarta Series !!! 

Sebenernya, ada satu postingan lagi tentang Wonosobo yang saya tulis di Lomba JaringIde. Tapi karena udah pernah di posting di blog ini juga, langsung baca aja postingannya di SINI... OK?

Yuk, lanjuuut... 
Setelah beberapa postingan tentang tempat-tempat kece di Wonosobo, kita terbang yuk, ke Kota Pelajar alias Yogyakarta. Saya udah di sini sekitar 4,5 tahun. Bisa dibilang Jogja itu rumah kedua saya setelah Wonosobo. 

Kayak logonya Jogja Berhati Nyaman, kota ini memang nyaman. Buktinya aja ribuan perantau dari berbagai penjuru tanah air betah tuh di sini (apa terpaksa ke sini buat sekolah ya? kagak tau deh). Yang jelas banyak yang jatuh cinta sama Jogja dan gak mau balik lagi ke kampung halaman. Banyak wisatawan ato orang luar Jogja yang dateng ke Jogja juga merasakan hal yang sama. 

Saya pernah baca postingan seorang blogger asal Jambi, namanya Ahmad Firdaus yang pernah ke Jogja dan nulis begini :

"Di Jogja gue melihat hal yang unik. Sebuah kota yang rata-rata jalan rayanya kecil, tapi rame. Rame tapi nggak macet. Nah, gimana tuh? pokoknya lo dateng aja deh ke Jogja. Namanya juga Daerah Istimewa. Disana makanannya juga murah-murah. Makan Nasi + Ayam 2 + Es Teh cuma 13 rebu. Pantas aja teman-teman gue yang ngekost di Jogja pada sehat sentosa. " (http://madz666.blogspot.com)

Wait. kita ulangi ya... 
"Jalan rayanya kecil, tapi rame, tapi gak macet." 

Itu pegimane maksudnye? Kok Bisa? 
Bisaa... inilah yang disebut tepa slira alias tenggang rasa. Coba, di kota besar mana kamu nemuin kalo motor dari perempatan mau nyebrang, terus mobil ato motor yang dari jalan utama, tiba-tiba berhenti terus tangan mereka mempersilahkan seakan berkata "Monggo, silahkan jalan duluan." ? Jarang banget ada yang kayak gitu kecuali di Jogja. Setahu saya, kalo di kota gedhe kebanyakan pengendara asal nyrobot dan gak mau kalah. 

Tapi akhir-akhir ini di Jogja juga lambat laun jadi jarang nemuin tepa slira, jalanan tambah rame seiring banyak yang beli mobil sama motor. Dan mulai banyak yang pake rumus penyerobotan. Hiks, sedih... T_T

Terlepas dari itu semua, beneran deh! Berdasarkan pengalaman sayah yang juga seorang perantau dari kota lain, Jogja itu emang nyaman. Dari orangnya yang masih ramah, fasilitasnya yang lumayan lengkap, budayanya yang masih terjaga, makanannya yang murah sampai objek wisata yang bejibun saking banyaknya. Enyak, enyak.... 

Kalo lagi suntuk pengen maen, banyak banget tempat buat sekedar melepas stres, ato cari tempat buat hunting foto-foto bagus. Salah satunya ini nih...

Taman Sari




Saat selir sedang mandi, di tempat istimewa di lantai atas, sang raja melihat selir-selir tersebut dan memilih salah satu yang 'beruntung' untuk menemani Raja pada malam harinya....(ahem ahem) #apasih -_-

Ya, Taman Sari adalah sebuah tempat yang dulunya tempat pemandian para selir kerajaan. Terletak di sekitar Keraton Yogyakarta. Tempat ini sekarang menjadi salah satu objek wisata di Yogyakarta.
Tiket masuknya sekitar Rp.6000 saja. Kalo mau dapat objek bagus buat motret, tempat ini bisa jadi salah satu pilihan. Yuk, intip sedikit ke dalem...


Taman Sari (1)

Taman Sari (3)

Bangunannya indah banget apalagi kalo suasana lagi cerah. Kolam pemandiannya pun jadi keliatan cakep. Langsung tancap deh, jeprat jepret. Hehe...


Taman Sari (4)


Di Balik Tembok Taman Sari

Eits, namanya emang di Balik Tembok Taman Sari, tapi ini bukan cerita mistis, ato terselubung gitu loh yah... 
-Terus mau bahas apanya dong? 
-Sabar, sabar, makanya lanjutin baca.. 

Kalau kamu ke Taman Sari, jangan hanya berhenti di tempat pemandiannya aja. Di Belakang Taman sari juga ada sebuah perkampungan yang terlalu bagus buat dilewatin! 


Taman Sari part 2 (2)

Namanya Kampung Cyber, karena warganya sudah 'melek' teknologi katanya.
Banyak hal yang saya temui di sana. Yang pertama terlintas di pikiran saya adalah : WOW, kampungnya indah.


Taman Sari part 2 (3)

Beneran. Karena kampungnya tertata rapi. Ada beberapa galeri seni, cafe dan dindingnya yang dilukis batik, corak khas Jogja, Galeri seninya pun di tata sedemikian rupa. Jadi para pengunjung sangat nyaman berjalan di kampung ini, sambil melihat galeri seni di sepanjang gang perkampungan. Warganya terlihat ada yang sedang membatik, membuat wayang dan melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menarik perhatian para pengunjung seperti saya. Bener-bener dah, betapa bahagianya dapet objek bagus.. *nari-nari 


So, yang masih di luar,  mari merapat ke mari... :3


Taman Sari part 2 (1)

Taman Sari part 2 (4)

Taman Sari part 2 (6)

Taman Sari part 2 (5)

Segitu dulu deh... Maap kalo tulisannya kali ini agak kacau. Hehe... Ada juga postingan tentang Objek di Jogja yang lain loh... Mampir aja ke SINI. See ya... ! :)
         


Namanya keren : WONOSOBO SQUARE. Tapi nama sebenarnya : Alun-Alun Wonosobo...

Ya Alun-alun.. tempat nongkrong klasik dari jaman baheula sampai sekarang... Yah, emang sih, sekarang lebih banyak tempat nongkrong buat kawula muda. Tapi alun-alun tidak pernah sepi pengunjung. Semua kalangan dari segala umur masih suka tuh main ke sini. Entah cuma mengisi sore hari, olahraga di pagi hari dan masih banyak yang bisa dilakuin di sini.

Namanya aja alun-alun, pastinya lokasinya di pusat kota. Biasanya digunakan buat mengadakan acara seperti upacara besar kayak 17an, ulang tahun kota sampai acara-acara festival.

Ngomong-ngomong tentang alun-alun, hampir semua kota di Indonesia paling tidak memiliki alun-alun. fungsinya pun kurang lebih satu dengan yang lainnya. Tapi Alun-alun di Wonosobo itu ada yang beda sob...

Nah, apa aja yang istimewa dari Alun-alun Wonosobo ini?

Yang pertama, desain Arsitekturnya. Arsitektur taman dan jalan di sekeliling alun-alun didesain khusus. Gak tanggung-tanggung. Katanya (katanya sih) arsiteknya khusus dari Jerman LHO... Entah harus seneng ato sedih dengernya. Keren sih.. tapi kalo kayak gini terus kapan kita bisa bangga sama hasil karya anak bangsa? (Tumben gue lumayan keren)


Wonosobo Square (11)
(spanduknya ganggu -___-)

Wonosobo Square (2)


Yang kedua kebersihannya, jangan khawatir terganggu oleh sampah yang biasa 'nongol' di tempat umum di Indonesia. Alun-alun ini dijamin bersih. Jadi nyaman untuk para pengunjung baik wisatawan maupun warga lokal, bahkan murud-murid sekolah di sekitar situ yang biasa meminjam lapangannya untuk berolahraga.

Wonosobo Square (3)

Yang ketiga fasilitasnya. Banyak fasilitas yang bisa dinikmati. Antara lain pedagang di sekitar alun-alun yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Biasanya pengunjung sengaja ke Alun-alun untuk sekedar makan sambil menikmati suasana di Alun-alun. Selain itu ada berbagai permainan yang dapat dilakukan di sana. Ada sepeda 'Couple', Ottoped, dan masih banyak lagi. Jadi pengunjung bisa menikmati fasilitas tersebut untuk mengelilingi Alun-alun. Bermain gelembung juga menjadi salah satu pilihan favorit pengunjung. Jadi bisa agak-agak romantis, mainan gelembung kayak di pidio klip gitu dah.. :3


Wonosobo Square (10)

Wonosobo Square (8)

Wonosobo Square (7)

Oh, ya.. bukan hanya warga lokal yang menjadi pengunjung Alun-alun. Para wisatawan Dieng juga biasanya menyempatkan diri buat mampir ke Alun-alun ini. Biasanya tujuannya dua. Sight seeing dan WISATA KULINER... YEAH.. #NyamNyam

Nah, itu sekelumit tentang Alun-alun Wonosobo. Gimana menurut kalian? Keren kah atau biasa aja? Soalnya beberapa kali saya melewati atau mengunjungi kota lain, alun-alunnya gak ada yang menandingi kerennya alun-alun ini. Hehe...
Kalau Alun-alun di kotamu lebih keren dari ini, bisa share di comment box yak... See ya... :)


    Wonosobo Square (6) 

Wonosobo Square (4)  
background pemandangannya GUNUNG! kurang keren apa coba...



Petualangan di Wonosobo berlanjut... Yuk Capcyuss...

Next Destination : Telaga Warna



Objek ini salah satu tempat yang lumayan 'WAJIB' dikunjungi oleh para pengunjung Dieng. Letaknya kurang lebih sekitar 5-10  menit dari objek wisata Candi Arjuna kalau pakai kendaraan.


Kenapa namanya Telaga Warna?

Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi di tempat ini yaitu berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar Matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Anda bisa menyaksikan di tengah telaga terdapat letupan air mendidih seperti yang ada di Kawah Putih (Jawa Barat).
Keberadaan Telaga Warna Dieng juga sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka menggunakannya sebagai sumber irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama di kawasan ini. 
(sumber : http://www.indonesia.travel/id/destination/804/telaga-warna-dieng)

Afternoon Shadows at Colour Lake

Waktu itu saya ke sana sore hari... Suasananya DINGIN as always.. Tapi agak hangat dengan terpaan sinar matahari yang mulai tenggelam...
And.. This is what makes me completely jaw drop....


DSCF8532

See?

Ya, saya pernah ke telaga warna waktu pagi, siang dan sore hari. Telaga Warna dalam berbagai suasana, tetap mempesona. Matahari sore menyinari permukaan Telaga hingga menciptakan warna-warna indah dengan bayang-bayang bukit di sekelilingnya... Sinar matahari sore itu pun menembus celah-celah pepohonan di sekitar telaga, membuat setiap orang yang berjalan di sekitar telaga merasakan kehangatannya...


Two Seasons of Colours Lake

Selain berbagai cuaca dan waktu, kebetulan saya ke Dieng juga melalui musim yang berbeda, jadi suasananya juga berbeda. Perbedaan itu bisa terlihat lebih jelas dengan Telaga Warna ini. Perbedaannya bisa dilihat di foto ini.


Telaga Warna (1)

Waktu saya ke sana musim kemarau, air Telaga tidak sampai di pinggir danau. Jadi saya dan teman-teman bisa di bilang 'masuk' ke danau. Saya merasakan seperti menginjak tanah yang lunak dan empuk. Sebenarnya kondisi ini belum lama terjadi. Dulu, waktu musim kemarau pun, air di danau tidak menyusut sebegitu signifikan. Tetapi karena beberapa kerusakan alam, akhirnya berimbas juga pada kondisi danau hingga menyusut seperti itu. How sad.. :(

Pada musim hujan, air danau penuh sampai ke pinggir danau. Seperti melihat danau seperti biasanya... Warna danau-nya pun lebih cerah... Suasana waktu saya ke sana waktu itu juga saat musim liburan, jadi lumayan ramai.

Selain menikmati danau, di Telaga Warna ini pengunjug bisa berjalan di jalan sekeliling danau, menikmati pemandangan danau dan hutan. Jalan setapaknya pun mantap indahnya,... Pengunjung juga bisa mencoba Flying Fox melintasi danau. Patut dicoba!


DSCF9019


Telaga Warna (5)


Bonus : TELAGA PENGILON

Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Padahal yang  membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Itulah kenapa dinamakan 'PENGILON' atau dalam Bahasa Indonesia berati CERMIN. Karena permukaannya yang bening sampai bisa buat ngaca lho... 



Sebelum bahas secara intensif (kayak rumah sakit aje) tentang Kawah Sikidang, kita belajar geologi di Dieng dulu nyok !


Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.

Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.
Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

Nah, diantara sekian banyak kawah yang ada di DTD (Dataran Tinggi Dieng), ada salah satu kawah yang namanya Kawah Sikidang.

Kenapa dinamai Sikidang?

Nama Sikidang di ambil dari kata “KIDANG” yang dalam bahasa Indonesia berarti Kijang. Binatang ini memiliki karasteristik yg suka melompat2. Seperti hal nya uap air dan lava berwarna kelabu yg terdapat di kawah sikidang ini selalu bergolak dan munculnya berpindah2 bahkan melompat seperti kijang. Di tengah dinginnya Dieng, tempat ini cocok buat menghangatkan badan, soalnya kawasan ini dipenuhi uap air yang hangat disepanjang jalan menuju ke kawah utama.

Sikidang (6)

Tiket masuk ke kawah ini satu paket dengan tiket ke Candi Arjuna. Jadi kalau sudah beli tiket Candi Arjuna, kalian juga harus ke sini. Sayang kan, udah bayar, masa gak ke sana #GakMauRugi

PENTING : Ini penting, dan perlu diperhatikan kalo mau ke Kawah Sikidang. Yaitu, PAKAILAH MASKER !!!
Soalnya bau belerangnya lumayan menyengat. Kalo mau saya berikan gambaran, baunya kayak bau kentut :p
Kalo bisa sih bawa masker sendiri, di sana ada sih yang jual, tapi tau sendirilah kalo harga di kawasan wisata itu muaahall... 


Sikidang (4)


Pemandangan di sana juga lumayan indah, Waktu berada di dekat kawah, semua rasa dingin itu hilang, diganti dengan panasnya uap kawah. Hmm, hangat... 

Pengunjung juga bisa menyewa kuda untuk menuju kawah, atau sekedar berkeliling di sekitar lokasi kawah. Ada juga penjual belerang di sekitar kawah. Belerang itu katanya bagus buat kulit. Yak, yang jerawatan, mari merapat.... makanlah pakailah belerang! kekeke :3

Sikidang (7)


Sikidang (3)


    
Well, saya nulis ini dalam tiga post sebenernya. Tapi di sini saya jadiin satu. Yah, biar gak ribet aja gitu :p

Yuk mari kita mulai...

Di postingan sebelumnya sudah saya ajak ke beberapa tempat yang asyik sebelum ke Dieng. Nah, kali ini FINALLY, sampailah kita di Dataran Tinggi Dieng. Welcome guys...

Kalau denger kata Dieng, yang pertama kali terlintas di pikiran adalah kompleks candinya yaitu Kompleks Candi Arjuna.

Candi Arjuna? Apa itu? Ini nih :

Candi Arjuna merupakan salah satu bangunan candi di Kompleks Percandian Arjuna, Dieng. Di kompleks ini juga terdapat Candi SemarCandi SrikandiCandi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Candi Arjuna terletak paling utara dari deretan percandian di kompleks tersebut. Sementara itu, Candi Semar adalah candi perwara atau pelengkap dari Candi Arjuna. Kedua bangunan candi ini saling berhadapan.
Seperti umumnya candi-candi di Dieng, masyarakat memberikan nama tokoh pewayangan Mahabarata sebagai nama candi.
Sumber : WikiPedia

Sebagai warga Wonosobo, saya sudah ke Dieng beberapa kali (emang apa hubungannya? -_-). Entah kenapa waktu saya ke sana suasananya pasti beda. Mendung, panas, sampe hujan. Then, muncullah ide nulis tentang Candi Arjuna ini dalam tiga cuaca deh...

Cekidot...

1. The Romantic-Cloudy Arjuna


(miss focus, hehe blm tahu menahu waktu itu :p)

Tiga candi utama berjajar rapi dengan latar belakang bukit-bukit yang tertutup awan. Satu kata : romantis


Arjuna (9)

Waktu pertama kali ke Dieng bersama teman-teman (sekitar th 2011), cuaca pada saat itu mendung. Kami sempat pesimis waktu berangkat, takut nanti sampai di Dieng malah hujan. Tapi kecemasan kami sirna waktu menapakkan kaki pertama kali di sana. Suasananya memang mendung, tapi juga tidak terlalu gelap. Itu artinya, ROMANTIS... hehe.



Arjuna (6)

Arjuna (8)

Kami langsung meluncur menuju Kompleks Candi Arjuna. Waktu itu bukan musim liburan. Jadi sepi, hanya rombongan saya lima orang, dan satu lagi rombongan lain. Tapi di situlah asyiknya. Jadi serasa milik sendiri, Hihihi.. saya dan teman-teman bisa guling-guling di rumput sekitar candi, dan menikmati pemandangan yang LUAR BIASA CANTIKNYAA...

Hanya satu yang kurang.... 

Pasangan HIDUP....  #UHUK  #CurcolTingkatKabupaten



2. The Sunny Arjuna

Arjuna (3)


Saya kembali ke dieng saat liburan lebaran tahun lalu (2012). Arjuna kali ini cerah, terang benderang. Dan yang pasti, ramai banget ! Sampai ada pasar dadakan juga. Maklum, saat itu banyak keluarga yang datang dari luar kota dan pasti pengen ke Dieng. 

Arjuna (1)

Suasananya jelas beda waktu pertama kali ke sana. Selain ramainya, banyak hal baru yang tidak saya temukan waktu pertama dulu. Banyak penjual cinderamata dan ada beberapa talent berpakaian tradisional untuk pertner berfoto. Jadi yang pengen foto bareng, cuma dengan 5 ribu rupiah, bisa langsung foto dengan abang-abang berpakaian tradisional ! 


Arjuna (2)

3. The Rainy Arjuna

Kali ini saya datang ke Dieng, dan tiba-tiba HUJAN !
Saat sedang menemani beberapa teman yang sedang liburan ke Dieng, seperti biasa tujuan pertama adalah Candi Arjuna. Baru beberapa menit setelah menikmati suasana di sana, BRES... Hujan turun lumayan lebat.


Arjuna (5)

Sontak para wisatawan, para penjual, para abang-abang yang yang berpakaian tradisional lengkap, tak lupa juga abang-abang berpakaian teletubies (IYA, TELETUBIES), langsung capcus mencari tempat berteduh.

Waktu para abang-abang teletubies itu mencari tempat beteduh, saya sempat geli lihatnya. Soalnya, dengan pakaian yang 'gemuk' itu, mereka berdesakan dalam satu payung terus lari-lari, tapi gak bisa cepat karena kostum yang lumayan bikin repot itu. Kalau dilihat dari belakang, lucu banget. Hihihi.


Tapi sayang, saya lupa ambil gambarnya,... Dan yang bisa saya capture saat hujan itu cuma beberapa gambar. 


Hujan memang sesuatu yang bukan kami harapkan waktu itu. Ditambah, hampir semua lokasi wisata di Dieng itu outdoor. Dan yang paling jelas, DINGIN BANGET ! Sumpah, kaki kami sampai menggigil.



Arjuna (4)

Tapi, hujan memang membawa berkah. Setelah dari candi Arjuna, kami mencari tempat makan tak jauh dari situ. Kami pesan teh hangat, jahe hangat dan sepiring tempe kemul, makanan khas Wonosobo... Sambil menunggu hujan reda dan melanjutkan ke tujuan wisata selanjutnya, kami menikmati teh dan jahe hangat sambil berbincang dan menikmati suara hujan yang damai di luar sana. Sekali lagi ada pengalaman baru. :)

DIENG, dengan berbagai cuaca dan suasana, tetap memberi kesan yang mendalam. Dari cuaca hujan sampai cerah, bisa kita nikmati dengan berbagai cara juga.... 


Tertarik?


FYI : All photos taken from pocket camera
Ada satu lagi nih, jangan ketinggalan mampir ke tempat ini juga kalo ke Wonosobo...


Yap, Kebun teh...

Ada beberapa perkebunan teh yang ada di Wonosobo. Salah satunya Kebun Teh di kawasan Agrowisata Tanjungsari. Kebun Teh ini letaknya lumayan jauh dari Dieng. Yaitu di daerah Sapuran, perbatasan dengan Purworejo. Tapi pemandangan dan suasana yang disuguhkan gak bakal bikin nyesel!


Tambi TS (3)


Di sini kita bisa menghirup udara segar, bisa sambil nge-teh atau menggunakan fasilitas lain seperti wahana-wahana permainan. Dan, ada kolam renangnya juga lho... Silahkan, yang mau renang, kalo gak kedinginan, hihi...

Bisa juga hanya duduk-duduk di gubuk bambu sambil menikmati pemandangan kebun teh yang menyejukkan mata dan pikiran... 


Tambi TS (5)

NOTE:

Selain Kebun Teh Tanjungsari, ada Kebun Teh Tambi yang letaknya dekat dengan Dieng yaitu di daerah Kejajar, tepatnya jalur menuju Dieng. Kebun Teh Tambi ini paling terkenal diantara kebun teh lainnya.. Jadi, Kebun Teh Tambi ini juga MOST RECOMENDED PLACE :)


Ada yang tahu di mana Wonosobo? Yang tahu angkat tangannyahh!!!

*dan kemudian hening 

Saat ini ceritanya saya sedang merantau, menimba ilmu #eaaa dan saat saya menyebutkan daerah asal saya itu, banyak yang nggak tahu. Bahkan ada yang tanya itu di Jawa ato bukan.. 


Tapi akhir-akhir ini Wonosobo mulai banyak di kenal khalayak. Terima kasih untuk FTV-FTV yang beberapa waktu yang lalu setting-nya emang di Wonosobo, terima kasih juga buat acara-acara travel yang beberapa kali meliput Wonosobo... #seneng 



Nah. Singkatnya, Wonosobo adalah sebuah kabupaten kecil yang terletak di barat daya Kabupaten Temanggung dan utara Kabupaten Kebumen. Lebih jelasnya bisa lihat peta sonoh... hehe..

Lokasi Wonosobo dilihat dari Peta Jawa Tengah


Peta Wonosobo dengan lokasi objek wisata.


Walau tergolong Kabupaten yang kecil, Wonosobo menyimpan banyak potensi lho, di antaranya di bidang Pariwisatanya. Mulai dari tempatnya yang indah, kuliner yang beragam sampai tanaman khas yang hanya bisa ditemui di sini. 

Kalau bilang Wonosobo, pasti gak jauh dari kata DIENG. Iya, DIENG... walau sebagian besar Dieng milik Kabupaten sebelah yaitu Banjarnegara, namun kebanyakan wisatawan menggunakan akses dari Wonosobo untuk sampai ke Dieng dan banyak juga yang masih menganggap Dieng itu ya Wonosobo... Perjalanan dari Kota Wonosobo sampai ke Dataran Tinggi Dieng kurang lebih 1-2 jam. 

Eits, sabar dulu... sebelum sampai di Dieng, banyak juga lho objek-objek ciamik yang bisa dikunjungi di sepanjang jalan menuju Dieng... DIJAMIN GAK NYESEL BRO... 



Diantaranya adalah Telaga Menjer, sebuah danau yang terletak di Kecamatan Garung. Daerah ini juga merupakan jalur yang dilewati wisatawan apabila ke Dieng. Jadi sembari menyelam, kita minum air di Telaga Menjer yuk ! :P


Menjer (1)

Airnya yang bening dan suasana yang sejuk membuat pikiran jadi rileks. Pengunjung juga bisa menaiki perahu untuk keliling danau. Waktu saya liatin foto menjer ke temen-temen, pada langsung jatuh cinta sama tempat ini dan pengen ke sana. Kayak lukisan katanya..



Menjer (4)

Menjer (5)

Tarif masuknya tergolong murah dari 3 - 5 ribu rupiah.
Untuk sewa perahu kita bisa patungan dengan rombongan agar lebih murah bayarnya, satu perahu berkisar 60-100 ribu, tinggal pinter-pinter tawar-menawar sama abangnya aja... 


This is REALY REALY MUST VISIT PLACE..


source map : http://wonosobocommunity.blogspot.com/2010/03/peta-wonosobo.html    

Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home