Ulasan 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (atau kritik?)

11:09:00 AM


Sebenernya saya kudet banget ya,.. hari gini baru bahas film ini(soalnya kebetulan juga dapet tugas review film ini, kalo gak ada tugas, mungkin gak pernah nulis ni post, hehe) ... tapi tak ape lah... cekidot!


Film yang bertemakan religi nampaknya sedang booming akhir-akhir ini. Mulai dari Ayat-Ayat Cinta sebagai pionir film bertemakan agama, kemudian diikuti rentetan film religi lain. Dari satu sisi, film dengan tema religi membawa dampak bagus di tengah film ecek-ecek yang hanya mengandalkan sensualitas dan pornografi yang disamarkan dan dikemas dalam bentuk film horor. Tetapi di sisi lain, pemahaman agama yang kurang dari para penggarap film tersebut, membuat esensi yang dibawa kadang-kadang melenceng dan membawa dampak yang lebih besar kepada masyarakat terkait pencitraan agama, khususnya islam. Pencitraan yang kurang tepat sedikit banyak membentuk mainset para penonton (masyarakat) dalam menilai ajaran agama (islam). Tak jarang hal ini membuat para pemuka dan pemikir agama angkat bicara.

Dengan meng-hama-nya film religi, film dengan tema prularisme juga mulai bermunculan. Sebut saja film “cin(T)a” yang menceritakan tentang pasangan beda agama, kemudian “3 Hati Dua Dunia Satu Cinta” yang juga mengangkat tema pasangan beda agama dan sarat akan penipisan tembok perbedaan dengan meng-atas namakan cinta. Kemudian hanung bramantyo dengan “?” (baca : Tanda Tanya) nya yang lebih banyak mengundang kontroversi dibandingkan dengan film-film yang saya sebutkan tadi. Tetapi kali ini saya akan khusus membahas membahas film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta.

Film yang disutradarai oleh Benni Setiawan ini berkisah tentang Rosid (Reza Rahardian) seorang pembaca puisi dan wartawan freelance. Ia berpacaran dengan Delia (Laura Basuki) yang seorang katolik. Kedua orang tua mereka jelas tidak setuju dengan hubungan mereka. Rosid-pun dijodohkan dengan seorang muslimah bernama Nabila (Arumi Bachsin). Ending film ini banyak membuat penonton tidak puas karena agak menggantung dan juga membuat penonton bertanya-tanya. Ending kehidupan mereka hanya ditulis dengan tulisan epilog yang menceritakan, bahwa mereka(bertiga) akhirnya memliki pasangan masing. 

Waktu saya selesai menonton film ini juga saya bertanya “TERUS????”. Yah, sepertinya film ini sengaja dibuat demikian agar penonton dapat mengambil kesimpulan sendiri tentang penyelesaian masalah pokoknya, yaitu tentang pernikahan beda agama. Dan menurut saya tidak sehat karena membuat para penonton berspekulasi sendiri yang jelas akan mengarahkan kepada pendapat-pendapat yang kurang meyakinkan. Walau ending ceritanya jelas(mereka memiliki pasangan masing-masing pada akhirnya) tapi pertanyaan yang harusnya terjawab malah belum terjawab. Saya terus terang juga menyayangkan hal ini.

Oke, saya tidak mau berpanjang lebar dengan synopsis filmnya. Karena yang akan saya bahas di sini adalah pendapat saya tentang film ini dari segi pelajaran yang dapat diambil dengan tidak mengesampingkan kritik-kritik juga dari saya, hehe.

Bagian2 yang menurut saya agak mengganggu dan saya kurang suka dalam film ini :
  1. Tentang adat penggunaan kopiah putih juga baju serba putih yang dianut oleh bapaknya Rosid. Kalau saya menangkap dari bagian cerita yang ini, kesannya kebanyakan umat muslim di Indonesia hanya menganut paham leluhur, dan menganggapnya terkesan ‘wajib’. Padahal tidak semuanya seperti itu. Oke, bila tujuan adanya bagian ini untuk meluruskan paham yang banyak menganut ajaran leluhur, bukan dari Rasulullah. Tapi yang saya sayangkan, masalah ini tidak terselesaikan. Padahal pada saat Rosid mengungkapkan pendapatnya saat bertemu dengan Guru di sana, mereka berjanji akan berdiskusi lagi, tapi tidak dimunculkan lagi dalam cerita berikutnya. Sayang sekali.
  2. Bagian saat penggrebegan kelompok diskusinya Rosid yang dilakukan oleh sekelompok pemuda muslim. Bagian ini mengesankan bahwa umat muslim identik dengan kekerasan dan langsung bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Walaupun akhirnya mereka berdamai, saya tidak merasa sreg dengan bagian yang satu ini.
  3. Ketua kelompok diskusi lintas agama (saya lupa namanya). Dia adalah anak seorang yang tahu agama (saya juga lupa namanya, tapi yang jelas, diperankan oelh Hadad Alwi). Kok dia mengadakan perkumpulan macam itu. Yang menurut saya memang menyalurkan aspirasi pemuda, tapi agak kelewatan. Dan dari scene diskusi di kelompok itu, terkesan nyeleneh dan membuat penonton lagi –lagi harus berspekulasi sendiri tentang pernikaan antar agama. Yang akhirnya di jawab dengan tertawa ???
  4. Tentang candaan ‘bukan muhrim’ antara Rosid dan Delia. Sangat-sangat mengganggu. Yang sudah tahu tentang hukum ber-khalwat, pasti juga akan merasakan hal yang sama. Sudah tahu bukan muhrim, kok masih bonceng-boncengan ^^.
  5. Cerita secara global. Sekali lagi, cerita ini membuat kita berspekulasi sendiri tentang pernikahan beda agama. Dan hal ini mengesankan bahwa penyelesaian masalah yang notabene menjadi masalah yang sejak zaman dahulu ini menjadi penyelesaian yang ‘menggantung’, dengan hukum yang tidak tegas dan terkesan membebaskan larangan menikah berbeda agama.
Yang dapat menjadi pelajaran dari film ini (walau saya menangkapnya agak susah dan tidak terlalu mengena di hati ^^)

  1. Tentang perbuatan syirik yang dilakukan bapaknya Rosid (Rasyid Karim). Ini menjadi pelajaran buat kita bahwa hal-hal yang berbau ajimat dan bebagai bentuk syirik dan musyrik itu hanya membawa kemudharatan bagi kita.
  2. Tentang ending film ini yang digambarkan dengan tulisan-tulisan epilog (walaupun agak susah menangkapnya). Bahwa jodoh kita Allah yang mengatur, jangan hanya mengikuti nafsu sesaat atau mengatas namakan cinta. Pernikahan yang berlandaskan cinta pada Allah, bukan hanya cinta pada pasangan, adalah sebaik-baiknya pernikahan.
  3. Tentang kasih sayang seorang ibu kepada anak, di sini saya agak merasakan itu ^^, ini terjadi antara ibunya Rosid dengan Rosid.
  4. Nasehat bapaknya Mahdi (sekarang saya inget nama ketua kelompok lintas agama itu, aha). Bahwa, Kita ini belum ada seujung kuku menjalankan perintah agama kita dengan benar. Jadi bila kita belum paham bener agama kita, jangan dulu sok tahu, sok pintar dan jangan membuat kesimpulan sendiri mengenai agama kita.

Untuk keseluruhan, film ini sangat lebih mendingan dibandingkan film horror ecek-ecek yang tetap menjamur. Tetapi untuk konten yang lebih detail memang harus medapatkan perhatian dan kajian yang mendalam. Juga harus melalui pertimbangan yang masak. Bahkan bila perlu, diskusikan terlebih dahulu konten tersebut dengan orang yang memang memiliki ilmu agama.

Terkadang dibalik cerita secara keseluruhan, film religi memuat hal-hal yang sensitive dalam beberapa bagian dari ceritanya. Dan hal ini juga sedikit banyak menarik perhatian penonton dan membuat persepsi baru dengan bagian cerita itu.

Sekian dari saya, tulisan di atas hanya saran dan pendapat dari seorang penonton. Kurang lebihnya mohon maaf, bila ada kritik, saran ataupun kurang setuju dengan pendapat saya di atas, bisa langsung komen.. Oke.. Cao!


You Might Also Like

0 comments