Namanya keren : WONOSOBO SQUARE. Tapi nama sebenarnya : Alun-Alun Wonosobo...

Ya Alun-alun.. tempat nongkrong klasik dari jaman baheula sampai sekarang... Yah, emang sih, sekarang lebih banyak tempat nongkrong buat kawula muda. Tapi alun-alun tidak pernah sepi pengunjung. Semua kalangan dari segala umur masih suka tuh main ke sini. Entah cuma mengisi sore hari, olahraga di pagi hari dan masih banyak yang bisa dilakuin di sini.

Namanya aja alun-alun, pastinya lokasinya di pusat kota. Biasanya digunakan buat mengadakan acara seperti upacara besar kayak 17an, ulang tahun kota sampai acara-acara festival.

Ngomong-ngomong tentang alun-alun, hampir semua kota di Indonesia paling tidak memiliki alun-alun. fungsinya pun kurang lebih satu dengan yang lainnya. Tapi Alun-alun di Wonosobo itu ada yang beda sob...

Nah, apa aja yang istimewa dari Alun-alun Wonosobo ini?

Yang pertama, desain Arsitekturnya. Arsitektur taman dan jalan di sekeliling alun-alun didesain khusus. Gak tanggung-tanggung. Katanya (katanya sih) arsiteknya khusus dari Jerman LHO... Entah harus seneng ato sedih dengernya. Keren sih.. tapi kalo kayak gini terus kapan kita bisa bangga sama hasil karya anak bangsa? (Tumben gue lumayan keren)


Wonosobo Square (11)
(spanduknya ganggu -___-)

Wonosobo Square (2)


Yang kedua kebersihannya, jangan khawatir terganggu oleh sampah yang biasa 'nongol' di tempat umum di Indonesia. Alun-alun ini dijamin bersih. Jadi nyaman untuk para pengunjung baik wisatawan maupun warga lokal, bahkan murud-murid sekolah di sekitar situ yang biasa meminjam lapangannya untuk berolahraga.

Wonosobo Square (3)

Yang ketiga fasilitasnya. Banyak fasilitas yang bisa dinikmati. Antara lain pedagang di sekitar alun-alun yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Biasanya pengunjung sengaja ke Alun-alun untuk sekedar makan sambil menikmati suasana di Alun-alun. Selain itu ada berbagai permainan yang dapat dilakukan di sana. Ada sepeda 'Couple', Ottoped, dan masih banyak lagi. Jadi pengunjung bisa menikmati fasilitas tersebut untuk mengelilingi Alun-alun. Bermain gelembung juga menjadi salah satu pilihan favorit pengunjung. Jadi bisa agak-agak romantis, mainan gelembung kayak di pidio klip gitu dah.. :3


Wonosobo Square (10)

Wonosobo Square (8)

Wonosobo Square (7)

Oh, ya.. bukan hanya warga lokal yang menjadi pengunjung Alun-alun. Para wisatawan Dieng juga biasanya menyempatkan diri buat mampir ke Alun-alun ini. Biasanya tujuannya dua. Sight seeing dan WISATA KULINER... YEAH.. #NyamNyam

Nah, itu sekelumit tentang Alun-alun Wonosobo. Gimana menurut kalian? Keren kah atau biasa aja? Soalnya beberapa kali saya melewati atau mengunjungi kota lain, alun-alunnya gak ada yang menandingi kerennya alun-alun ini. Hehe...
Kalau Alun-alun di kotamu lebih keren dari ini, bisa share di comment box yak... See ya... :)


    Wonosobo Square (6) 

Wonosobo Square (4)  
background pemandangannya GUNUNG! kurang keren apa coba...



Petualangan di Wonosobo berlanjut... Yuk Capcyuss...

Next Destination : Telaga Warna



Objek ini salah satu tempat yang lumayan 'WAJIB' dikunjungi oleh para pengunjung Dieng. Letaknya kurang lebih sekitar 5-10  menit dari objek wisata Candi Arjuna kalau pakai kendaraan.


Kenapa namanya Telaga Warna?

Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi di tempat ini yaitu berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar Matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Anda bisa menyaksikan di tengah telaga terdapat letupan air mendidih seperti yang ada di Kawah Putih (Jawa Barat).
Keberadaan Telaga Warna Dieng juga sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka menggunakannya sebagai sumber irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama di kawasan ini. 
(sumber : http://www.indonesia.travel/id/destination/804/telaga-warna-dieng)

Afternoon Shadows at Colour Lake

Waktu itu saya ke sana sore hari... Suasananya DINGIN as always.. Tapi agak hangat dengan terpaan sinar matahari yang mulai tenggelam...
And.. This is what makes me completely jaw drop....


DSCF8532

See?

Ya, saya pernah ke telaga warna waktu pagi, siang dan sore hari. Telaga Warna dalam berbagai suasana, tetap mempesona. Matahari sore menyinari permukaan Telaga hingga menciptakan warna-warna indah dengan bayang-bayang bukit di sekelilingnya... Sinar matahari sore itu pun menembus celah-celah pepohonan di sekitar telaga, membuat setiap orang yang berjalan di sekitar telaga merasakan kehangatannya...


Two Seasons of Colours Lake

Selain berbagai cuaca dan waktu, kebetulan saya ke Dieng juga melalui musim yang berbeda, jadi suasananya juga berbeda. Perbedaan itu bisa terlihat lebih jelas dengan Telaga Warna ini. Perbedaannya bisa dilihat di foto ini.


Telaga Warna (1)

Waktu saya ke sana musim kemarau, air Telaga tidak sampai di pinggir danau. Jadi saya dan teman-teman bisa di bilang 'masuk' ke danau. Saya merasakan seperti menginjak tanah yang lunak dan empuk. Sebenarnya kondisi ini belum lama terjadi. Dulu, waktu musim kemarau pun, air di danau tidak menyusut sebegitu signifikan. Tetapi karena beberapa kerusakan alam, akhirnya berimbas juga pada kondisi danau hingga menyusut seperti itu. How sad.. :(

Pada musim hujan, air danau penuh sampai ke pinggir danau. Seperti melihat danau seperti biasanya... Warna danau-nya pun lebih cerah... Suasana waktu saya ke sana waktu itu juga saat musim liburan, jadi lumayan ramai.

Selain menikmati danau, di Telaga Warna ini pengunjug bisa berjalan di jalan sekeliling danau, menikmati pemandangan danau dan hutan. Jalan setapaknya pun mantap indahnya,... Pengunjung juga bisa mencoba Flying Fox melintasi danau. Patut dicoba!


DSCF9019


Telaga Warna (5)


Bonus : TELAGA PENGILON

Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Padahal yang  membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Itulah kenapa dinamakan 'PENGILON' atau dalam Bahasa Indonesia berati CERMIN. Karena permukaannya yang bening sampai bisa buat ngaca lho... 



Sebelum bahas secara intensif (kayak rumah sakit aje) tentang Kawah Sikidang, kita belajar geologi di Dieng dulu nyok !


Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.

Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.
Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

Nah, diantara sekian banyak kawah yang ada di DTD (Dataran Tinggi Dieng), ada salah satu kawah yang namanya Kawah Sikidang.

Kenapa dinamai Sikidang?

Nama Sikidang di ambil dari kata “KIDANG” yang dalam bahasa Indonesia berarti Kijang. Binatang ini memiliki karasteristik yg suka melompat2. Seperti hal nya uap air dan lava berwarna kelabu yg terdapat di kawah sikidang ini selalu bergolak dan munculnya berpindah2 bahkan melompat seperti kijang. Di tengah dinginnya Dieng, tempat ini cocok buat menghangatkan badan, soalnya kawasan ini dipenuhi uap air yang hangat disepanjang jalan menuju ke kawah utama.

Sikidang (6)

Tiket masuk ke kawah ini satu paket dengan tiket ke Candi Arjuna. Jadi kalau sudah beli tiket Candi Arjuna, kalian juga harus ke sini. Sayang kan, udah bayar, masa gak ke sana #GakMauRugi

PENTING : Ini penting, dan perlu diperhatikan kalo mau ke Kawah Sikidang. Yaitu, PAKAILAH MASKER !!!
Soalnya bau belerangnya lumayan menyengat. Kalo mau saya berikan gambaran, baunya kayak bau kentut :p
Kalo bisa sih bawa masker sendiri, di sana ada sih yang jual, tapi tau sendirilah kalo harga di kawasan wisata itu muaahall... 


Sikidang (4)


Pemandangan di sana juga lumayan indah, Waktu berada di dekat kawah, semua rasa dingin itu hilang, diganti dengan panasnya uap kawah. Hmm, hangat... 

Pengunjung juga bisa menyewa kuda untuk menuju kawah, atau sekedar berkeliling di sekitar lokasi kawah. Ada juga penjual belerang di sekitar kawah. Belerang itu katanya bagus buat kulit. Yak, yang jerawatan, mari merapat.... makanlah pakailah belerang! kekeke :3

Sikidang (7)


Sikidang (3)


    
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home