Mecca - Medina, My Journey.

3:57:00 PM



Finally, I have time to sit down and talk about this.

Karena setelah pulang dari ibadah umroh, terkena flu dan awet flunya, akhirnya ssetelah 1-2 minggu agak mendingan dan bisa nyelesein ini tulisan.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt. Saya diberikan kesempatan untuk berkunjung ke tanah haram Makkah dan Madinah.
Sebenernya sangat tidak menyangka bisa duluan ke sini daripada ke negara-negara lain. And I'm so happy that I did.

Memang waktu itu rezeki, waktu dan kesempatan lah yang membuatku semakin memantapkan niatku untuk segera berangkat. I don't know why, but I just did. Mungkin ini yang disebut panggilan hati :).
Akhirnya berangkatlah saya beserta Bapak dan Ibu.
Singkat cerita, setelah kumpul dan menginap satu malam di Jakarta, kami berangkat menuju Bandara dan take off sekita pukul 17.00 (delay, karena menunggu penumpang dari semarang yang pesawatnya juga delay)

MADINAH



Pertama kali menginjakkan kaki di tanah haram yaitu di Madinah. Dari biro ingin mengikuti jejak Rasulullah dalam melaksanakan haji/umroh, yaitu dari Madinah ke Mekah.
Kami tiba di Madinah sekitar jam 2.00 AM dini hari waktu setempat. Dibimbing oleh muthawif (pembimbing umroh saat di Madinah-Mekah), kami langsung menuju Masjid Nabawi untuk sholat jama ta'khir Magrib-Isya.
Jarak antara Hotel dengan masjid sekitar 100m-200 m, jadi tidak terlalu jauh berjalan kaki. Tapi karena masjidnya subhanallah besarnya, jadi dari gerbang ke dalam masjid juga sekitar 200 m lagi.

Pertama kali melihat masjid nabawi diwaktu dini hari? It’s magical. Saya merinding dan speechless dan tidak bergerak for a good minutes setelah selesai sholat Magrib-Isya. MasyaAllah. Indah.


Karena badan yang lelah setelah perjalanan 9 jam di pesawat dan ditambah berjam-jam di bandara sebelumnya, saya memutuskan langsung ke Hotel untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Kemudian kembali ke Masjid sekitar jam 4 untuk Sholat Subuh. Waktu Sholat Subuh di sana sekitar jam 5 pagi.

FYI, untuk ikut sholat fardhu di sana (Makkah maupun Madinah) harus paling tidak 1-2 jam sebelum adzan. Kalau tidak, jangan harap bisa sholat di dalam masjid. Untuk di Nabawi, sekitar sebelum setengah jam sebelum adzan masih bisa di dalam kalau beruntung. Itupun di tempat yang tadinya jalan di dalam masjid, disekitar tempat air zam-zam. Kalau tidak ya sholat di serambi masjid. Jangan khawatir, di serambipun disediakan karpet dan tempatnya luas seluas lapangan.


Jangan tanya kalau di Masjid Al-Haram Mekah. Jangankan mau masuk di bagian dalam sekitar ka'bah, di gerbang menuju bagian dalam ka'bah, sudah diusir sama polisi masjid. Kalau apes-apesnya menjelang adzan baru berangkat, bersiaplah sholat di pelataran atau bahkan bisa di jalanan (pengalaman pribadi LOL)

Orang-orang datang ke Tanah Haram memang dengan berniat untuk ibadah. Tidak heran suasana di sana sangat damai, tentram. Orang-orang berlomba untuk cepat ke masjid, berlomba untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya.

Pengalaman tidak terlupakan di Madinah adalah ketika di Roudhoh. Roudhoh untuk wanita seringnya dibuka waktu dhuha, karena sebenarnya tempatnya digunakan utuk sholat laki-laki.



Orang-orang yang ingin ke roudhoh jangan di tanya, sangat bejubel. sehingga harus diatur untuk bergantian. Kami dipandu ustadzah Indonesia yang tinggal di Makkah untuk ke sana. Untuk ke sana harus mendaftar terlebih dahulu. Kami harus antri. Sewaktu, menunggu kami sholat dhuha atau membaca tilawah. Sewaktu menunggu giliran, antrian di depan kami sangat riuh sewaktu giliran mereka tiba. tidak jarang terjadi desak2an dan dorong-dorongan. Wanita-wanita asia dengan eropa di pisah antriannya untuk menghindari kerusuhan karena tinggi rata-rata yang berbeda.

Setibanya waktu kami masuk, langunglah berebutan ke dalam roudhoh. Betapa tidak, kami hanya berjarak beberapa meter dari makam Rasulullah dan di sana merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdoa. Sebenarnya di dalam tidak memungkinkan untuk sholat dua roka'at. Namun MasyaAllah, saya bisa melaksanakan sholat di roudhoh dan ada seseorang yang menjaga tempat sujudku. Saya tidak bisa menahan tangis sewaktu sujud. Saya orang yang jarang sekali menangis, tapi waktu itu tangisanku tidak berhenti. Saya memberikan kesempatan untuk yang lain melaksanakan sholat di bekasku sholat, kemudian melanjutkan untuk berdoa. Mendoakan semua yang kita mau. Kami berdoa sambil berdiri. karena tidak memungkinkan berdoa sambil duduk. Ketika dirasa cukup, kami keluar. What a experience. Alhamdulillah.

MEKAH


Setelah beberapa hari di kota Madinah, kami berangkat ke Makkah untuk melaksanakan umroh.

Dari hotel, kami sudah memakai pakaian ikhram. Kemudian mengambil miqat (dimulainya ibadah Haji/Umroh, harus mengenakan pakaian ikhrom dan memasang niat) di Masjid Bir 'Ali.

Setelah mengambil miqot, kami menuju ke Mekah. Perjalanan sekitar 5 jam (kurang lebih 500 km). Sepanjang jalan benar-benar hanya batu dan pasir. Namun ada berkah di tengah perjalanan. Saya dan Ibu mengira suara rintikan di dalam bis dikarenakan suara aspal yang belum kering. sehingga kerikil atau batu-batu kecil aspal menimbulkan suara di badan bis. Namun setelah beberapa saat ternyata suara rintikan itu adalah suara gerimis hujan. Subhanallah. Allahumma shoyyiban nafi’an. Oh, iya, ngomong-ngomong soal suhu dan cuaca sepanjang di sana, it’s normal like in Indonesia. Sewaktu pagi sekitar 25 °C dan sewaktu dzuhur sekitar 37 °C. Sewaktu malam juga sekitaran 25 °C.

Kamis sampai di Mekah sekitar waktu Isya. Bus Kami dilarang masuk komplek masjid karena masuk waktu sholat. Setelah waktu sholat berakhir, bus kami bisa masuk menuju Hotel kami. Saat menuju hotel. MasyaAllah, beribu-ribu orang berduyun-duyun pulang dari masjid. I'm speechless. It was my first time seeing this. And I's still in awe everytime I got out from mosque with thousand others till the last day I'm there.


Setelah makan malam di hotel, kami menuju kamar untuk berwudhu (bagi yang telah batal wudhunya), kemudian menuju Masjidil Haram utnuk memulai umroh. Dengan dipandu muthowif, kami rombongan menuju pintu yang paling dekat dengan hotel. Kami sholat magrib-isya jama’ ta’khir terlebih dahulu.

Kami sholat dengan ka’bah di depan mata kami. Setelah bertahun-tahun lamanya saya sholat dengan menghadap ka’bah yang sejauh beribu-ribu kilometer, kini dia di depan mata. My feelings at that time could not be expressed in words. Hanya bisa mengucapkan takbir, tasbih dan tahmid tanpa henti.

Setelah melaksanakan sholat, kami mulai melakukan thawaf. Barisan dibentuk 5 baris, dengan laki-laki dibarisan luar dan wanita dibarisan dalam. Bersama dengan ratusan-ribuan orang lainnya, saya menjadi bagian perputaran itu.
Setelah selesai, kami menuju tempat air zam-zam. Setelah mengucapkan doa,kami meminum air zam-zam kemudian menuju ke bukit Sofa untuk kemudian melakukan sa’i. Dengan semangat, kami berjalan/berlari kecil sembari mengucap do’a. Subhanallah, rasa kaki saya waktu itu luar biasa.😊

Setelah sa’i selesai, kami mencukur sejumput rambut (tahalul) untuk mengakhiri ibadah umroh. Kami selesai sekitar pukul 2.00 dini hari.

Kami kembali ke hotel untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Kemudian kembali ke masjid untuk sholat malam langsung berlanjut sholat subuh.





NEXT DAY


Hari-hari selanjutnya diisi dengan perbanyak ibadah di Masjidil Haram dan kemudian dilanjutkan umroh kedua dengan mengambil miqat di Ji’ronah. Umroh ini bisa untuk diri sendiri lagi, juga bisa untuk orang lain (satu orang).

Hari selanjutnya lagi free kegiatan, dan kebetulan bertepatan hari jumat. Hari jumat adalah hari libur untuk warga lokal dan yang jelas hari full barokah. Di sana wanita mengikuti sholat jumat sebagai pengganti sholat dhuhur. Untuk sholat jumat, kami setidaknya harus ke masjid 2 jam sebelum waktu sholat jumat untuk mendapatkan tempat di dalam masjid. Karena tidak hanya jama’ah umroh yang akan banyak melaksanakan sholat jumat, namun juga warga lokal juga warga sekitar kota tetangga yang memang sengaja datang untuk melaksanakan sholat jumat. Kami berangkat dari hotel sekitar pukul 9.30. Alhamdulillah dapat tempat yang nyaman di dalam masjid. Kami perbanyak beribadah sholat sunnah dan tilawah (terutama Surah Al Kahfi dan Ar-Rahman).

Waktu sholat Jumat tiba. Kami mendengarkan khutbah Jumat dengan bantuan dari channel radio translate live berbahasa Indonesia. Alhamdulillah.  Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tak terasa hari berikutnya kami sudah akan meninggalkan tanah haram dan pulang ke tanah air. Kami menuju Bandara yang berada di kota Jeddah. Setelah berkejar dengan waktu, akhirnya kami masih dapat mengejar pesawat dan kemudian take off terbang menuju Ibu pertiwi. Sebagian besar rombongan mulai menunjukkan gejala batuk dan flu. Selama kami di Madinah dan Makkah, jiwa dan raga kami dikuatkan dengan dipenuhi Ibadah dan dzikir kepada Allah swt. Dan setelah selesai, baru raga kami mulai menampakkan kelemahannya, karena sungguh, jiwa dan hati ini sudah rindu kembali lagi ke Rumah-Mu.

Maaf ya, Tulisannya puanjang sepanjang jalan tol. Dan ini belum diedit lagi. Makasih yang udah baca sampai selesai. See U.





You Might Also Like

0 comments