Frame of Dreams

    • Home
    • Travel
    • _Wonosobo
    • _Jogja
    • Portfolio
    • Photo Blog
    • Food
    • My Stories
    Posting syahdu di malam minggu…. La.la.la…… (dinyanyikan ala lagu -kisah sedih di hari minggu-)
    littlegirlemoticon
    Wuih, capek juga.. setelah berhari2 ini melanglang buana…
    Ke mana?
    Nyamperin blog2nya orang2…hahay, istilah kerennya blog walking gitu….
    Tapi karena saya orangnya lempeng dan males buat komentar, jadi saya tidak meninggalkan jejak apapun di blog yang saya kunjungi…, ada sedikit rasa sesal membahana… kebiasaan yang harus diubah..
    Tapi salut buat blog2 yang udah saya kunjungi, blog2nya siapa sajakah itu? Hanya saya dan Allah yang tau… hehe
    Halah sudahlah berbasa basinya… lanjut ke topic utama

    PULANG KAMPUNG
    littlegirlemoticon
    ‘Horay!’ Itulah kata yang cukup mewakili para perantau ketika mau pulang kampung. Momen ini adalah momen yang paling dinanti bagi para perantau (di sini saya khususkan untuk para mahasiswa).
    Moto saya sebagai perantau adalah ....
    Tunggu tunggu… sebenernya dibilang perantau juga bukan, kampung halaman saya bisa ditempuh dengan 5 jam perjalanan via bis dan 3 jam via sepeda motor. Tapi biar keren lah, kita sebut saja saya perantau ya, setuju? Oke lanjut…
    Moto saya sebagai perantau : seindah2nya tempat merantai, kampung halaman tetep is the best lah!
    Saya pikir2 kok motonya gak keren ya? Ah biarkanlah…
    Pulang kampung menjadi moment untuk melepas rindu dengan keluarga, dengan tempat asal kita, dengan jejak2 masa kecil,.. ahh, jadi pengen pulang lagi :)
    Di sini saya akan bocorin apa aja yang saya lakukan dirumah?
    Banyak yang saya lakukan. Tapi yang lebih dominan adalah nyampah…
    Ya, nyampah. Mungkin kedengarannya tidak enak di organ penciuman Anda karena dapat menimbulkan bisul mendadak. Tapi jangan berpikiran yang enggak2 dulu. Jangan2 pada bayangin saya jadi pemulung kalo pulang kampung. BUKAN! Karena dengan muka yang in-telek dan terlihat cool (baca= lempeng) ini saya sangat tidak cocok dengan pekerjaan semacam itu. Karena saya lebih cocok kerja di air… ( ilustrasi : Hening, garing, *kriuk… lempeng)littlegirlemoticon
    1. Nyampah littlegirlemoticon
    Kata ini yang paling cocok menurut saya untuk menggambarkan kegiatan saya di rumah saat pulang kampung. Kegiatan nyampah meliputi : Nonton TV sambil ngemil, tidur setelah ngemil, makan sepuas-puasnya à pembalasan saat2 mengenaskan di kos (baca : kurang makan) setelah itu ngemil lagi..
    Eits, Jangan berpikiran yang negatif dulu… ikuti terus sampe postingan abis dulu…
    2. Tetep dan musti dilakuin = bantu ORTU
    Senyampah-nyampahnya, saya berusaha untuk menjadi orang yang berguna di rumah. Manfaatin waktu sebaik2nya dengan mereka sebelum nantinya kembali ke tanah rantau adalah pilihan yang wajib. Gak usah yang berat2, lakukan apa yang enyak dan babe suruh, bersih2 rumah, terutama sampah2 yang tadi dihasilkan selama nyampah. Masakin makan siang buat mereka saat pulang kerja nanti (yang ini terus terang saya berat menjalankannya, karena kemampuan masak saya betul2 di bawah chef Juno *Lho). Dan kalian bisa berimprovisasi untuk melakukan hal2 yang membuat mereka bahagia. Ah, senangnya bisa membuat tulisan yang lumayan berguna….
    3. Nonton acara TV Favorit
    Yang ini adalah hal yang saya nantikan kalo pulang kampung. Soalnye di kos kagak ada TV. Yak, silahkan pada ketawa. Saya memang kudet tentang gosip2 yang lebay, sinetron yang super Lebay dan reality show yang mbahnya lebay. Tapi kelihatannya saya emang lebih baik gak nonton. Dan yang saya tonton di rumah emang kebanyakan bukan stasiun tv dalam negeri. Karena setelah muter bolak balik di kurang lebih sepuluh stasiun tv Indonesia, hampir semuanya gak banget. Hampir gak ada yang mendidik dan sarat akan makna. Hampir semuanya hanya hiburan kosong yang sesaat.
    Tapi kalo lagi pengen ketawa2 aja saya juga akhirnya nonton TV Indonesia. Contohnya ngetawain sinetron yang pemeran antagonisnya membelalakkan matanya sampe hampir copot, ato ngetawain sinetron yang pemerannya bisa berubah wujud semau die, mau jadi elang, uler, lalat, lutung atau apapun lah.. dengan taman yang dihias bunga plastik warna norak, trus abis itu nyanyi dangdut deh, ASOY…
    Biasanya dalam hal ngejek sinetron, saya ajak rekan saya, yaitu kakak saya. Saya sama dia bakalan nonstop membuat joke2 saat sinetron.nya berlangsung. Bisa jadi malah kita bisa bikin sinetron sendiri. Kata2 paporit kita adalah … JRENG JRENG ( music membahana, wajah si antagonis di close up se CLOSE CLOSE nya) kemudian bilang dalam hati “ Ha.Ha.Ha.. minuman itu sudah saya beri RACUN! Sebentar lagiii…. Perusahaannya AKAN MENJADI MILIKKU, HA.HA.HA.”littlegirlemoticon
    Ya, kalimat ini adalah yang paling sering saya dan kakak saya peragakan..
    Cukup dengan acara2 tak penting itu, sekarang lanjut ke acara yang biasa saya pantengin : yaitu…
    JRENG JRENG JRENG …
    Tunggu di post selanjutnya, hehehe…
    Udah cape, gara2 tugas kuliah yang bejibun menjelang Ujian. Kebiasaan klasik di hari2 menjelang ujian semester = TUGASNYA GAK KENAL AMPUN! littlegirlemoticon
    See ya!


    Continue Reading



    Sepertinya saya sering sekali ke pantai (untuk ukuran mahasiswa yang sibuk #sok sibuk mode on)

    Pantai emang jadi salah satu tujuan wisata bagi orang-orang darat (bukan pesisir) untuk melepas penat. Karena dengan melihat pantai dan laut lepas, pikiran kita seakan juga loss, eits, bukan loss yang artinya kehilangan pikiran, hehe. Tapi seolah-olah kita bisa melupakan sejenak masalah di daratan, kayak amphibi aje, pake daratan lautan... Yah, pokoknya itulah! lagi susah jelasin,whitekittenemoticon tapi tetep pengen share jepretanku... hahay

    Kali ini ada acara jalan-jalan lagi ke pantai. Kali ini sama rombongan Tahsin di kampus saya...

    Lokasi : Pantai Depok, Yk
    Kegiatan : OutBond, permainan2 seru, Baca Al-Qur'an (jelas dong), cerdas cermat tahsin dan materi dahsyat dari pembicara...

    oke, selamat menikmati fotonya, mudah2an berkenan di hati para penikmat blog.... Anyong!
    Continue Reading

    Sebenernya saya kudet banget ya,.. hari gini baru bahas film ini(soalnya kebetulan juga dapet tugas review film ini, kalo gak ada tugas, mungkin gak pernah nulis ni post, hehe) ... tapi tak ape lah... cekidot!


    Film yang bertemakan religi nampaknya sedang booming akhir-akhir ini. Mulai dari Ayat-Ayat Cinta sebagai pionir film bertemakan agama, kemudian diikuti rentetan film religi lain. Dari satu sisi, film dengan tema religi membawa dampak bagus di tengah film ecek-ecek yang hanya mengandalkan sensualitas dan pornografi yang disamarkan dan dikemas dalam bentuk film horor. Tetapi di sisi lain, pemahaman agama yang kurang dari para penggarap film tersebut, membuat esensi yang dibawa kadang-kadang melenceng dan membawa dampak yang lebih besar kepada masyarakat terkait pencitraan agama, khususnya islam. Pencitraan yang kurang tepat sedikit banyak membentuk mainset para penonton (masyarakat) dalam menilai ajaran agama (islam). Tak jarang hal ini membuat para pemuka dan pemikir agama angkat bicara.

    Dengan meng-hama-nya film religi, film dengan tema prularisme juga mulai bermunculan. Sebut saja film “cin(T)a” yang menceritakan tentang pasangan beda agama, kemudian “3 Hati Dua Dunia Satu Cinta” yang juga mengangkat tema pasangan beda agama dan sarat akan penipisan tembok perbedaan dengan meng-atas namakan cinta. Kemudian hanung bramantyo dengan “?” (baca : Tanda Tanya) nya yang lebih banyak mengundang kontroversi dibandingkan dengan film-film yang saya sebutkan tadi. Tetapi kali ini saya akan khusus membahas membahas film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta.

    Film yang disutradarai oleh Benni Setiawan ini berkisah tentang Rosid (Reza Rahardian) seorang pembaca puisi dan wartawan freelance. Ia berpacaran dengan Delia (Laura Basuki) yang seorang katolik. Kedua orang tua mereka jelas tidak setuju dengan hubungan mereka. Rosid-pun dijodohkan dengan seorang muslimah bernama Nabila (Arumi Bachsin). Ending film ini banyak membuat penonton tidak puas karena agak menggantung dan juga membuat penonton bertanya-tanya. Ending kehidupan mereka hanya ditulis dengan tulisan epilog yang menceritakan, bahwa mereka(bertiga) akhirnya memliki pasangan masing. 

    Waktu saya selesai menonton film ini juga saya bertanya “TERUS????”. Yah, sepertinya film ini sengaja dibuat demikian agar penonton dapat mengambil kesimpulan sendiri tentang penyelesaian masalah pokoknya, yaitu tentang pernikahan beda agama. Dan menurut saya tidak sehat karena membuat para penonton berspekulasi sendiri yang jelas akan mengarahkan kepada pendapat-pendapat yang kurang meyakinkan. Walau ending ceritanya jelas(mereka memiliki pasangan masing-masing pada akhirnya) tapi pertanyaan yang harusnya terjawab malah belum terjawab. Saya terus terang juga menyayangkan hal ini.

    Oke, saya tidak mau berpanjang lebar dengan synopsis filmnya. Karena yang akan saya bahas di sini adalah pendapat saya tentang film ini dari segi pelajaran yang dapat diambil dengan tidak mengesampingkan kritik-kritik juga dari saya, hehe.

    Bagian2 yang menurut saya agak mengganggu dan saya kurang suka dalam film ini :
    1. Tentang adat penggunaan kopiah putih juga baju serba putih yang dianut oleh bapaknya Rosid. Kalau saya menangkap dari bagian cerita yang ini, kesannya kebanyakan umat muslim di Indonesia hanya menganut paham leluhur, dan menganggapnya terkesan ‘wajib’. Padahal tidak semuanya seperti itu. Oke, bila tujuan adanya bagian ini untuk meluruskan paham yang banyak menganut ajaran leluhur, bukan dari Rasulullah. Tapi yang saya sayangkan, masalah ini tidak terselesaikan. Padahal pada saat Rosid mengungkapkan pendapatnya saat bertemu dengan Guru di sana, mereka berjanji akan berdiskusi lagi, tapi tidak dimunculkan lagi dalam cerita berikutnya. Sayang sekali.
    2. Bagian saat penggrebegan kelompok diskusinya Rosid yang dilakukan oleh sekelompok pemuda muslim. Bagian ini mengesankan bahwa umat muslim identik dengan kekerasan dan langsung bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Walaupun akhirnya mereka berdamai, saya tidak merasa sreg dengan bagian yang satu ini.
    3. Ketua kelompok diskusi lintas agama (saya lupa namanya). Dia adalah anak seorang yang tahu agama (saya juga lupa namanya, tapi yang jelas, diperankan oelh Hadad Alwi). Kok dia mengadakan perkumpulan macam itu. Yang menurut saya memang menyalurkan aspirasi pemuda, tapi agak kelewatan. Dan dari scene diskusi di kelompok itu, terkesan nyeleneh dan membuat penonton lagi –lagi harus berspekulasi sendiri tentang pernikaan antar agama. Yang akhirnya di jawab dengan tertawa ???
    4. Tentang candaan ‘bukan muhrim’ antara Rosid dan Delia. Sangat-sangat mengganggu. Yang sudah tahu tentang hukum ber-khalwat, pasti juga akan merasakan hal yang sama. Sudah tahu bukan muhrim, kok masih bonceng-boncengan ^^.
    5. Cerita secara global. Sekali lagi, cerita ini membuat kita berspekulasi sendiri tentang pernikahan beda agama. Dan hal ini mengesankan bahwa penyelesaian masalah yang notabene menjadi masalah yang sejak zaman dahulu ini menjadi penyelesaian yang ‘menggantung’, dengan hukum yang tidak tegas dan terkesan membebaskan larangan menikah berbeda agama.
    Yang dapat menjadi pelajaran dari film ini (walau saya menangkapnya agak susah dan tidak terlalu mengena di hati ^^)

    1. Tentang perbuatan syirik yang dilakukan bapaknya Rosid (Rasyid Karim). Ini menjadi pelajaran buat kita bahwa hal-hal yang berbau ajimat dan bebagai bentuk syirik dan musyrik itu hanya membawa kemudharatan bagi kita.
    2. Tentang ending film ini yang digambarkan dengan tulisan-tulisan epilog (walaupun agak susah menangkapnya). Bahwa jodoh kita Allah yang mengatur, jangan hanya mengikuti nafsu sesaat atau mengatas namakan cinta. Pernikahan yang berlandaskan cinta pada Allah, bukan hanya cinta pada pasangan, adalah sebaik-baiknya pernikahan.
    3. Tentang kasih sayang seorang ibu kepada anak, di sini saya agak merasakan itu ^^, ini terjadi antara ibunya Rosid dengan Rosid.
    4. Nasehat bapaknya Mahdi (sekarang saya inget nama ketua kelompok lintas agama itu, aha). Bahwa, Kita ini belum ada seujung kuku menjalankan perintah agama kita dengan benar. Jadi bila kita belum paham bener agama kita, jangan dulu sok tahu, sok pintar dan jangan membuat kesimpulan sendiri mengenai agama kita.

    Untuk keseluruhan, film ini sangat lebih mendingan dibandingkan film horror ecek-ecek yang tetap menjamur. Tetapi untuk konten yang lebih detail memang harus medapatkan perhatian dan kajian yang mendalam. Juga harus melalui pertimbangan yang masak. Bahkan bila perlu, diskusikan terlebih dahulu konten tersebut dengan orang yang memang memiliki ilmu agama.

    Terkadang dibalik cerita secara keseluruhan, film religi memuat hal-hal yang sensitive dalam beberapa bagian dari ceritanya. Dan hal ini juga sedikit banyak menarik perhatian penonton dan membuat persepsi baru dengan bagian cerita itu.

    Sekian dari saya, tulisan di atas hanya saran dan pendapat dari seorang penonton. Kurang lebihnya mohon maaf, bila ada kritik, saran ataupun kurang setuju dengan pendapat saya di atas, bisa langsung komen.. Oke.. Cao!


    Continue Reading

    Well,... ceritanya saya ini sebenarnya penulis #orang2 pada mengerutkan alis
    Tenang, tenang,.. saya belum selesai ngomong....

    Kalo menurut saya sih, orang yang menulis di buku diarynya sendiripun bisa disebut penulis... (nge-les, tapi berdampak pada penurunan derajat definisi penulis karena mempunyai seorang penulis (baca : saya -red ) yang agaknya sangat payah, hehe)

    Sudahlah! saya tidak akan mengatai diri saya sendiri yag nantinya berdampak pada fans-fans saya yang mungkin kecewa, yak jangan muntah dulu

    sebelumnya saya minta maaf pada beberapa orang yang sudah memberi saya kepercayaan untuk semua ini #yang kagak paham gak usah baca yang ini

    orang-orang yang mengenal saya mungkin bertanya "Mana karyamu?" ( padahal gak ada yang peduli,.. #siapa gue?)
    dan saya biasanya cuek dengan hal-hal itu..
    Tapi akhir-ahir ini saya merasa,.. "*Tringgggg *Ahaaa, benar juga ya, saya belum pernah menghasilkan sesuatu yang wah! gitu...

    #curcol
    rasanya miris dengan diri saya sendiri apabila mellihat suatu tulisan saudara-saudaraku yang sangat bagus, dengan kata-kata indah dan rangkaian kata-kata yang puitis...
    dan juga kadang tulisan yang dahsyat, tajam dan mengena --> ini lebih membuat hati saya lebih miris... :(

    Tapiiiii

    betapa mencobanya pun tampaknya saya memang tidak berbakat dalam hal itu... (ataukah 'belum'?) Who knows?

    siapa tahu nanti tiba2 saya sudah menjadi seorang penulis yang diakui (setidaknya dikalanganku sendiri)????

    oke, curhatan selesai dulu sampai di sini... semoga kalau waktunya sudah datang ataupun saya bisa lebih berusaha, saya bisa membuat suatu tulisan yang tajam, mengena, tapi indah...

    Bismillah...

    oh, ya... tidak lupa saya menyertakan hasil jepretanku yang terbaru....

    cao!
    Continue Reading


    Nah,.. tu kan... apa saya bilang.....
    saya ini memang sedang gandrung nulis ataupun jeprat-jepret tentang kampung halaman saya....
    berhubung ini rubrik jepretan, nulisnya dikit aja ye... hehe... monggo dinikmati...

    adalah alun-alun Wonosobo... baru direnovasi sekitar..... (berapa lama ya) pokoknya beberapa tahun lalu deh...
    saya memang lemah dalam setiap detail tentang sesuatu... otak saya ini kayaknya memang hanya bisa mengingat sedikit hal, hehe.. tapi tetap bersyukur atas nikmat dari Allah yang luar biasa, hidup yang luar biasa, orang-orang disekelilingku yang luar biasa, keluarga yang luar biasa, dan kampung halaman yang luar biasa(teteeep). SUPER SEKALI!!!! >.<
    kok jadi banyak nulisnya ya..... oke,... see ya....
    Continue Reading

    Sebenernya sok tahu saya saja. Soalnya saya juga belum pernah makan di sana. Hehe
    Tapi kalau seorang pak Bondan Winarno yang tentunya sudah tak asing lagi bagi para penggemar wisata kuliner aja pernah datang ke situ, dan dia memuji makanan dan pemandangannya yang menakjubkan, gak salah dong, kalau saya merekomendasikan Rumah Makan Joglo ini...
    Yup, Namanya Rumah Joglo, Rumah makan ini terletak di Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia, lebih tepatnya lagi jalan Kertek-Temanggung. Konsepnya jawa abis. dengan ukiran-ukiran pada kayunya dan desain bangunanya yang jelas seperti namanya, yaitu gaya joglo. eits, tapi jangan salah... walaupun tempat gaya jawa, tapi pemandangan sekelas eropa bos!
    sebagian besar dinding yang terbuat dari kaca membuat para pengunjung bisa menikmati pemandangan gunung sindoro (atau sumbing yah? hehe, lupa ) di belakangnya dan gunung satunya di seberang jalan (pokoknya ada dua gunng itu :)). And, didukung suasana yang dingin2 empuk...... Brrrrrr.... serasa di eropa pas musim dingin Deh!
    Belum mencicipi makannya juga (soalnya dateng ke sana juga belum pernah) tapi, dengan suasana seindah itu, makanan apapun akan terasa lezat, isn't it?
    So, yang satu ini bisa jadi referensi para pembaca (emang ada yang baca?:))
    biar lebih jelas, tak kasih picnya nih... walaupun kurang jelas karena kabut tebal dan karena diambil dari bis yang lagi lari kenceng banget, tapi setidaknya ada gambaran... oke... thats for today...
    alasan nulis posting ini : pertama, lagi kangen kampung halaman, jadi foto n tulisannya pun serba tentang kampung halaman. di fb aja upload foto2 di kampung halaman terus... entar kapan2 tak tulis deh ttg foto2 itu... (siapa yang nanya?)
    kedua, kalo lewat rumah makan ini pas perjalanan balik ke Jogja, jujur saya terkagum2 dengan pemandangan pegunungan dan rumah joglonya itu looo... kombinasi yang menarik! dan itu terus menerus, setiap saya melewatinya.

    okee, cao!
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me

    hestylukita
    Dreamer

    A Daughter, A Sister, A Dreamer. Penyuka Fotografi, Penyuka Hijau. Kadang pendiam, kadang serius, kadang 'menggila'. Read More

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Facebook Page

    Labels

    My Stories artikel dieng food food series jogja kaliwiro kampung korean food kuliner kuliner jogja photography photos review traveling wonosobo

    Blog Archive

    • ▼  2021 (1)
      • ▼  February 2021 (1)
        • 7 Café di Jogja - Ivy Coffee
    • ►  2020 (1)
      • ►  October 2020 (1)
    • ►  2019 (3)
      • ►  December 2019 (1)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  August 2019 (1)
    • ►  2018 (1)
      • ►  July 2018 (1)
    • ►  2017 (1)
      • ►  November 2017 (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  October 2015 (1)
      • ►  May 2015 (2)
    • ►  2013 (18)
      • ►  December 2013 (1)
      • ►  November 2013 (3)
      • ►  October 2013 (1)
      • ►  September 2013 (3)
      • ►  July 2013 (1)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  March 2013 (2)
      • ►  February 2013 (1)
      • ►  January 2013 (5)
    • ►  2012 (13)
      • ►  December 2012 (1)
      • ►  October 2012 (2)
      • ►  August 2012 (2)
      • ►  July 2012 (2)
      • ►  June 2012 (1)
      • ►  May 2012 (1)
      • ►  April 2012 (1)
      • ►  March 2012 (1)
      • ►  February 2012 (1)
      • ►  January 2012 (1)
    • ►  2011 (27)
      • ►  December 2011 (1)
      • ►  November 2011 (1)
      • ►  October 2011 (1)
      • ►  September 2011 (1)
      • ►  July 2011 (3)
      • ►  June 2011 (4)
      • ►  May 2011 (3)
      • ►  April 2011 (4)
      • ►  March 2011 (2)
      • ►  February 2011 (7)

    Recent Posts

    Popular Posts

    • [Melancong] Waroeng Joglo – Wonosobo : Bangunan Jawa, Suasana Eropa
    • [Jepretan] Akhirnya.... DIENG !!! negeri di atas awan
    • Ulasan 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (atau kritik?)
    • MAHAKARYA SENI DAN TEKNOLOGI UNTUK MARITIM NUSANTARA

    Contact Us

    Name

    Email *

    Message *

    Followers




    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top