Frame of Dreams

    • Home
    • Travel
    • _Wonosobo
    • _Jogja
    • Portfolio
    • Photo Blog
    • Food
    • My Stories
    Petualangan di Wonosobo berlanjut... Yuk Capcyuss...

    Next Destination : Telaga Warna



    Objek ini salah satu tempat yang lumayan 'WAJIB' dikunjungi oleh para pengunjung Dieng. Letaknya kurang lebih sekitar 5-10  menit dari objek wisata Candi Arjuna kalau pakai kendaraan.


    Kenapa namanya Telaga Warna?

    Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi di tempat ini yaitu berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar Matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Anda bisa menyaksikan di tengah telaga terdapat letupan air mendidih seperti yang ada di Kawah Putih (Jawa Barat).
    Keberadaan Telaga Warna Dieng juga sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka menggunakannya sebagai sumber irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama di kawasan ini. 
    (sumber : http://www.indonesia.travel/id/destination/804/telaga-warna-dieng)

    Afternoon Shadows at Colour Lake

    Waktu itu saya ke sana sore hari... Suasananya DINGIN as always.. Tapi agak hangat dengan terpaan sinar matahari yang mulai tenggelam...
    And.. This is what makes me completely jaw drop....


    DSCF8532

    See?

    Ya, saya pernah ke telaga warna waktu pagi, siang dan sore hari. Telaga Warna dalam berbagai suasana, tetap mempesona. Matahari sore menyinari permukaan Telaga hingga menciptakan warna-warna indah dengan bayang-bayang bukit di sekelilingnya... Sinar matahari sore itu pun menembus celah-celah pepohonan di sekitar telaga, membuat setiap orang yang berjalan di sekitar telaga merasakan kehangatannya...


    Two Seasons of Colours Lake

    Selain berbagai cuaca dan waktu, kebetulan saya ke Dieng juga melalui musim yang berbeda, jadi suasananya juga berbeda. Perbedaan itu bisa terlihat lebih jelas dengan Telaga Warna ini. Perbedaannya bisa dilihat di foto ini.


    Telaga Warna (1)

    Waktu saya ke sana musim kemarau, air Telaga tidak sampai di pinggir danau. Jadi saya dan teman-teman bisa di bilang 'masuk' ke danau. Saya merasakan seperti menginjak tanah yang lunak dan empuk. Sebenarnya kondisi ini belum lama terjadi. Dulu, waktu musim kemarau pun, air di danau tidak menyusut sebegitu signifikan. Tetapi karena beberapa kerusakan alam, akhirnya berimbas juga pada kondisi danau hingga menyusut seperti itu. How sad.. :(

    Pada musim hujan, air danau penuh sampai ke pinggir danau. Seperti melihat danau seperti biasanya... Warna danau-nya pun lebih cerah... Suasana waktu saya ke sana waktu itu juga saat musim liburan, jadi lumayan ramai.

    Selain menikmati danau, di Telaga Warna ini pengunjug bisa berjalan di jalan sekeliling danau, menikmati pemandangan danau dan hutan. Jalan setapaknya pun mantap indahnya,... Pengunjung juga bisa mencoba Flying Fox melintasi danau. Patut dicoba!


    DSCF9019


    Telaga Warna (5)


    Bonus : TELAGA PENGILON

    Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Padahal yang  membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Itulah kenapa dinamakan 'PENGILON' atau dalam Bahasa Indonesia berati CERMIN. Karena permukaannya yang bening sampai bisa buat ngaca lho... 


    (source : http://www.diengindonesia.com/2012/10/telaga-warna.html)
     

    Continue Reading

    Sebelum bahas secara intensif (kayak rumah sakit aje) tentang Kawah Sikidang, kita belajar geologi di Dieng dulu nyok !

    (Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Dieng#Kawah_Sikidang)

    Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.

    Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.
    Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

    Nah, diantara sekian banyak kawah yang ada di DTD (Dataran Tinggi Dieng), ada salah satu kawah yang namanya Kawah Sikidang.

    Kenapa dinamai Sikidang?

    Nama Sikidang di ambil dari kata “KIDANG” yang dalam bahasa Indonesia berarti Kijang. Binatang ini memiliki karasteristik yg suka melompat2. Seperti hal nya uap air dan lava berwarna kelabu yg terdapat di kawah sikidang ini selalu bergolak dan munculnya berpindah2 bahkan melompat seperti kijang. Di tengah dinginnya Dieng, tempat ini cocok buat menghangatkan badan, soalnya kawasan ini dipenuhi uap air yang hangat disepanjang jalan menuju ke kawah utama.

    Sikidang (6)

    Tiket masuk ke kawah ini satu paket dengan tiket ke Candi Arjuna. Jadi kalau sudah beli tiket Candi Arjuna, kalian juga harus ke sini. Sayang kan, udah bayar, masa gak ke sana #GakMauRugi

    PENTING : Ini penting, dan perlu diperhatikan kalo mau ke Kawah Sikidang. Yaitu, PAKAILAH MASKER !!!
    Soalnya bau belerangnya lumayan menyengat. Kalo mau saya berikan gambaran, baunya kayak bau kentut :p
    Kalo bisa sih bawa masker sendiri, di sana ada sih yang jual, tapi tau sendirilah kalo harga di kawasan wisata itu muaahall... 


    Sikidang (4)


    Pemandangan di sana juga lumayan indah, Waktu berada di dekat kawah, semua rasa dingin itu hilang, diganti dengan panasnya uap kawah. Hmm, hangat... 

    Pengunjung juga bisa menyewa kuda untuk menuju kawah, atau sekedar berkeliling di sekitar lokasi kawah. Ada juga penjual belerang di sekitar kawah. Belerang itu katanya bagus buat kulit. Yak, yang jerawatan, mari merapat.... makanlah pakailah belerang! kekeke :3

    Sikidang (7)


    Sikidang (3)


        
    Continue Reading
    Well, saya nulis ini dalam tiga post sebenernya. Tapi di sini saya jadiin satu. Yah, biar gak ribet aja gitu :p

    Yuk mari kita mulai...

    Di postingan sebelumnya sudah saya ajak ke beberapa tempat yang asyik sebelum ke Dieng. Nah, kali ini FINALLY, sampailah kita di Dataran Tinggi Dieng. Welcome guys...

    Kalau denger kata Dieng, yang pertama kali terlintas di pikiran adalah kompleks candinya yaitu Kompleks Candi Arjuna.

    Candi Arjuna? Apa itu? Ini nih :

    Candi Arjuna merupakan salah satu bangunan candi di Kompleks Percandian Arjuna, Dieng. Di kompleks ini juga terdapat Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Candi Arjuna terletak paling utara dari deretan percandian di kompleks tersebut. Sementara itu, Candi Semar adalah candi perwara atau pelengkap dari Candi Arjuna. Kedua bangunan candi ini saling berhadapan.
    Seperti umumnya candi-candi di Dieng, masyarakat memberikan nama tokoh pewayangan Mahabarata sebagai nama candi.
    Sumber : WikiPedia

    Sebagai warga Wonosobo, saya sudah ke Dieng beberapa kali (emang apa hubungannya? -_-). Entah kenapa waktu saya ke sana suasananya pasti beda. Mendung, panas, sampe hujan. Then, muncullah ide nulis tentang Candi Arjuna ini dalam tiga cuaca deh...

    Cekidot...

    1. The Romantic-Cloudy Arjuna


    (miss focus, hehe blm tahu menahu waktu itu :p)

    Tiga candi utama berjajar rapi dengan latar belakang bukit-bukit yang tertutup awan. Satu kata : romantis


    Arjuna (9)

    Waktu pertama kali ke Dieng bersama teman-teman (sekitar th 2011), cuaca pada saat itu mendung. Kami sempat pesimis waktu berangkat, takut nanti sampai di Dieng malah hujan. Tapi kecemasan kami sirna waktu menapakkan kaki pertama kali di sana. Suasananya memang mendung, tapi juga tidak terlalu gelap. Itu artinya, ROMANTIS... hehe.



    Arjuna (6)

    Arjuna (8)

    Kami langsung meluncur menuju Kompleks Candi Arjuna. Waktu itu bukan musim liburan. Jadi sepi, hanya rombongan saya lima orang, dan satu lagi rombongan lain. Tapi di situlah asyiknya. Jadi serasa milik sendiri, Hihihi.. saya dan teman-teman bisa guling-guling di rumput sekitar candi, dan menikmati pemandangan yang LUAR BIASA CANTIKNYAA...

    Hanya satu yang kurang.... 

    Pasangan HIDUP....  #UHUK  #CurcolTingkatKabupaten



    2. The Sunny Arjuna

    Arjuna (3)


    Saya kembali ke dieng saat liburan lebaran tahun lalu (2012). Arjuna kali ini cerah, terang benderang. Dan yang pasti, ramai banget ! Sampai ada pasar dadakan juga. Maklum, saat itu banyak keluarga yang datang dari luar kota dan pasti pengen ke Dieng. 

    Arjuna (1)

    Suasananya jelas beda waktu pertama kali ke sana. Selain ramainya, banyak hal baru yang tidak saya temukan waktu pertama dulu. Banyak penjual cinderamata dan ada beberapa talent berpakaian tradisional untuk pertner berfoto. Jadi yang pengen foto bareng, cuma dengan 5 ribu rupiah, bisa langsung foto dengan abang-abang berpakaian tradisional ! 


    Arjuna (2)

    3. The Rainy Arjuna

    Kali ini saya datang ke Dieng, dan tiba-tiba HUJAN !
    Saat sedang menemani beberapa teman yang sedang liburan ke Dieng, seperti biasa tujuan pertama adalah Candi Arjuna. Baru beberapa menit setelah menikmati suasana di sana, BRES... Hujan turun lumayan lebat.


    Arjuna (5)

    Sontak para wisatawan, para penjual, para abang-abang yang yang berpakaian tradisional lengkap, tak lupa juga abang-abang berpakaian teletubies (IYA, TELETUBIES), langsung capcus mencari tempat berteduh.

    Waktu para abang-abang teletubies itu mencari tempat beteduh, saya sempat geli lihatnya. Soalnya, dengan pakaian yang 'gemuk' itu, mereka berdesakan dalam satu payung terus lari-lari, tapi gak bisa cepat karena kostum yang lumayan bikin repot itu. Kalau dilihat dari belakang, lucu banget. Hihihi.


    Tapi sayang, saya lupa ambil gambarnya,... Dan yang bisa saya capture saat hujan itu cuma beberapa gambar. 


    Hujan memang sesuatu yang bukan kami harapkan waktu itu. Ditambah, hampir semua lokasi wisata di Dieng itu outdoor. Dan yang paling jelas, DINGIN BANGET ! Sumpah, kaki kami sampai menggigil.



    Arjuna (4)

    Tapi, hujan memang membawa berkah. Setelah dari candi Arjuna, kami mencari tempat makan tak jauh dari situ. Kami pesan teh hangat, jahe hangat dan sepiring tempe kemul, makanan khas Wonosobo... Sambil menunggu hujan reda dan melanjutkan ke tujuan wisata selanjutnya, kami menikmati teh dan jahe hangat sambil berbincang dan menikmati suara hujan yang damai di luar sana. Sekali lagi ada pengalaman baru. :)

    DIENG, dengan berbagai cuaca dan suasana, tetap memberi kesan yang mendalam. Dari cuaca hujan sampai cerah, bisa kita nikmati dengan berbagai cara juga.... 


    Tertarik?


    FYI : All photos taken from pocket camera
    Continue Reading

    Suatu saat ­ketika saya pulang kampung, saya dengar mau ada pagelaran Embleg atau lebih dikenal Kuda Lumping di desa saya. Wow, entah mau seneng atau sebel mendengarnya. Seneng karena memang itulah tujuan adanya pagelaran ini, buat hiburan orang di desa. Sebel karena musiknya itu yang menggelegar semalaman suntuk ke seluruh penjuru desa, sampai tikus-tikus tanah mungkin juga kebisingan sama musiknya. Dan tujuan saya pulang kampung adalah untuk menenangkan diri. Jadi praktis saya lebih milih buat condong ke sebel karena pagelaran ini. Belum ditambah suasana ‘mendem’ atau kesurupan yang syarat akan mistik itu.. hiii

    Hari sudah agak sore dan music gamelan pengiring pun dimulai. Dan suaranya, beehhh… bikin syaraf telinga tegang nonstop… saya pun keluar menuju halaman dan mencoba melongok ke tempat pagelaran yang tak jauh dari rumah. Hampir semua warga udah berkumpul buat nonton. Heran, kalau masalah embleg sama dangdut aja, langsung pada merapat teratur. Kalau pengajian, walaupun udah di koar2 pake toa keliling, nempel pengumuman sana sini , yang dateng itu-ituuu aja.. yah, mengajak orang menuju pintu kebaikan memang sangat sulit dan hanya orang-orang tertentu yang mau menyambutnya.. #huft #miapah

    Waktu saya melihat-lihat suasana di sekitar pagelaran itu,. Kok saya malah jadi tertarik ke sana yah? Hehe… dan saya putuskan untuk ke sana aja. Dengan mengesampingkan hura-hura, klenik dan lain sebagainya,  itung-itung buat tambah koleksi foto dan bisa menyapa tetangga.  Nah, buat yang belum tau apa itu embleg, baca dulu nih..

    Embleg/Kuda Lumping 

    (Sumber : http://budayasenijawa.wordpress.com)

    Sumber : http://www.panoramio.com/photo/25780289


    Tarian embleg adalah tarian tradisional khas daerah Wonosobo yang merupakan tarian rakyat yang menggambarkan pria menunggang kuda yang sedang berlatih perang. Adapun kuda yang ditunggangi adalah jaran kepang yang terbuat dari anyaman bambu. Tari Kuda Kepang / Embleg mengambil legenda Raden Panji Asmara Bangun yang sedang mencari kekasihnya bernama Sekartaji yang sangat dicintainya.

    Sejak kehidupan manusia purba, tarian mempunyai peranan yang sangat penting. Selain sebagai sarana upacara keagamaan dan adat, tarian juga sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan gembira yang diabdikan untuk keselamatan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

    Sumber : http://www.diengplateau.com/2010/11/tari-kuda-kepang-embleg-angguk-cepetan.html


    Itu sedikit info tentang embleg. Tarian embleg sendiri juga tidak terlepas dari yang namanya mendem atau kesurupan. Bahkan kalau embleg gak kesurupan, gak lengkap rasanya. Nah ini ni, yang tidak terlalu saya sukai. Karena di situ juga terdapat hal-hal mistis ataupun hal semacamnya. Jadi kadang mencampurkan antara kesenian dengan kemistisan, malah bisa juga mendekati kesyirikan, kalau berlebihan. #huft lagi.

    Memang banyak kebudayaan dari masyarakat yang masih sangat sulit terlepas dari ajaran agama nenek moyang, hindu ataupun kejawen. Silahkan temen-temen bisa menilai ataupun memilah sendiri :).

    Foto-foto ini hanya sekedar foto yang saya ambil untuk belajar dan menambah jam terbang mungkin, #hehe. Bisa juga dimasukkan dalam kategori Human Interest. Enjoy it! (still w/ my pocket camera and touching up w/photoscape)

    the dancer_2
    Penari-penarinya emang masih ABG -_-

    ready 
    Zaman sekarang ma, kuda lumpingnya gaul... pake tatoo -______-

    back

    kuda lumping
    Yook, kite ngumpul dulu nyok.. :3

    Saya juga beberapa kali jepret suasana di sekitar situ. Ini nih :

    no title_1 
    watch
    Yang nonton kebanyakan itu emang anak kecil, bayi2, balita, wadoh... -__-'''

    cilok
    Waa, ada cilok, jadi kepengen :3 #MauMauMau

    rainbow_2


    Es buah juga sepertinya menggiurkan, :P

    Sekian dulu.. Jangan bosen mampir yah! Anyong ! :) 
    Continue Reading
    Hello EveryOne!!!

    sebelumnya Assalamu'alaikum....

    Wah, rasanya seneng banget postingan kali ini... Karena apa? Karena akhirnya saya sampai di DIENG!!! sekali lagi DIENG!!! Amazing huh?

    Akhirnya tidak akan ada lagi temen2 yang mengejek saya karena belum pernah ke Dieng. Karena sebagai warga Wonosobo, saya termasuk super kurang geol getho... sampai seumur kepala dua baru kali ini nyampe Dieng. Banyak temen yang ngomong kalo diibaratkan, saya ini anak Jogja yang belum pernah ke Malioboro. Tapi predikat itu akan musnah sudah.... HaHai...

    O, iya... Sebelum nyampe di Wonosobo, kita Mampir dulu ke perkebunan teh di Agrowisata Tanjung Sari. Kita adalah pendatang pertama karena baru jam setengah 8 pagi waktu itu. Langsung capcus deh naik deh diantara teh2.... ^^ sejuk dan masih sepi....

    IMG_0732_k


    Awalnya saya sama temen2 serombongan, semuanya perempuan... ragu2 mau naik ke Dieng gak ya? ke Dieng gak Ya? Soalnya cuaca sangatlah tidak mendukung. Dan kata temen yang udah pernah ke sana dan kehujanan gak bisa liat apa2. Hanya liat kabut doang. Bayangan saya : ntar gak lucu dong mau pamerin bukti otentik bahawa saya pernah ke Dieng, 'Gue habis dari Dieng nih!' begitu liat foto gue dengan gaya metenteng diantara kabut putih, paling pada bilang 'ah, kamu lo paling cuma nampang dikepulan asap sate lebaran' sangat mengenaskan bukan? Dan galau-lah saya....

    ... Trus kita putusin buat mampir ke Telaga Menjer. Kali aja bisa ngobatin rasa nyesel kalo2 gak bisa ke Dieng. Emang waktu itu mendung banget... Ini nih salah satu jepretannya...

    IMG_0818_k

    Karena melihat wajah2 yang udah kayak pengen nangis kalo gak jadi ke Dieng, akhirnya, temen kita yang udah pernah ke sana mau ngajak kita muter ke atas dulu liat keadaan, kalo cuaca memburuk, kita langsung turun. Kita-pun setuju, berangkatlah ke atas .... dan kabutpun udah lebat banget... dalam hati ini sudah putus asa deh... Ya, sudah kalo memang bukan jodohnya ketemu Dieng gak pa2, tapi semoga bisa ke sana T____T kabulkan do'a A'im ya Alloh...


    dan ketika nyampe setengah jalan, akhirnya Guide kita itupun akhirnya mantap mengajak kita ke atas. Dan kita kegirangan. Tapi tetep kalo cuacanya memburuk langsung turun. Kita ngangguk2 semangat kayak anak SD aja. dan Ready to GO....

    Dan karena kuasa Allah swt, setelah sampai sana, cuacanya bagus dan agak cerah... Subhanallah... tak menunggu lama lagi, langsung tancap gas ke tujuan pertama, yaitu kompleks Candi Arjuna :

    IMG_0890_k

    IMG_0887_k




    Udah agak puas (tapi sebenernya belum puas T__T) soalnya dikejar waktu takut pas turun nanti udah hujan, langsung deh ke lokasi selanjutnya... Kawah Sikidang....

    IMG_0972_k


    dan yang terakhir Tlaga Warna

    IMG_1085

    perjalanan pulang, kabutnya sudah lenyap dan bisa liat pemandangan yang ciamik... tapi saya gagal dapet foto yang bagus.. soalnye ngebut ditambah jalannya ngeri euy
    IMG_1128_k

    maap yee kalo tulisannya gak karuan... soalnye kebelet pengen share jepretannya euy! Hehe. Lain kali saya akan menulis pengalaman saya secara mendetail deh, kalo sempet tapi... ^^v

    sebenernya masih banyak jepretannya, tapi besok lagi aja dah... hehe
    oke... jepretan selanjutnya di dieng tunggu yeee..... Ciao... !






    Continue Reading
    Assalamu'alaikum.....

    Sebenernya lagi sibuk ni.... ( sok banget ye, hahay) Tapi, berhubung kebelet ngPost, jadi saya paksain ngPost...
    pertanyaan : kok ngebet banget ngPost sih? Kenapa? Why? Wae,Wae?
    jawaban : Karena saya akan lumayan banyak memperlihatkan jepretan saya setelah sekian lama, hohoho Yihu #SuHeRi = Suka Heboh Sendiri http://www.emocutez.com

    jadi ceritanya gini (cerita dulu ga pa2 ya.... :))
    sekitar seminggu kemarin, saya baru berkelana dengan kakak saya, BER-KE-LA-NA *diBacaAlaBangHajiRhomaIrama

    niat hati ingin ke dieng, tapi apa daya waktu itu masih ber-status 'waspada' karena dikhawatirkan bau gasnya bisa menyerang wisatawan, (sumpah, bukan bau gas saya :p)...
    Kayaknya sih gitu... Tapi, kalopun kenyataannya gak se-ngeri itu, saya masih sayang nyawa, lebih baik jaga2, betul?

    Pengen ke sini, tapi apa daya, gak jadi deh :(
    sumber : http://kanapaini.blogspot.com

    jadi, singkat kata singkat cerita, walau gak pergi ke Dieng, ke 'bawah'nya Dieng gak pa2 deh... Nama tempatnya Kejajar, tepatnya di pertanian Kejajar, kira2 begitulah....
    Kejajar merupakan nama daerah yang dilewati wisatawan kalo pergi ke Dieng... jadi pemandangannya juga gak kalah seru, hahay... :)

    oke dah. pertama2... marilah kita menuju ke jepretan2 saya... saya masih belajar, jadi mohon kesudian pembaca untuk maklum... jepretan2 ini diambil dari kamera 1.3 mpx HP saya lalu saya permax deh... Enjoy it! Anyong ! http://www.emocutez.com







    abang penjual arum manis :)

    little flower

    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    hestylukita
    Dreamer

    A Daughter, A Sister, A Dreamer. Penyuka Fotografi, Penyuka Hijau. Kadang pendiam, kadang serius, kadang 'menggila'. Read More

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Facebook Page

    Labels

    My Stories artikel dieng food food series jogja kaliwiro kampung korean food kuliner kuliner jogja photography photos review traveling wonosobo

    Blog Archive

    • ▼  2021 (1)
      • ▼  February 2021 (1)
        • 7 Café di Jogja - Ivy Coffee
    • ►  2020 (1)
      • ►  October 2020 (1)
    • ►  2019 (3)
      • ►  December 2019 (1)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  August 2019 (1)
    • ►  2018 (1)
      • ►  July 2018 (1)
    • ►  2017 (1)
      • ►  November 2017 (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  October 2015 (1)
      • ►  May 2015 (2)
    • ►  2013 (18)
      • ►  December 2013 (1)
      • ►  November 2013 (3)
      • ►  October 2013 (1)
      • ►  September 2013 (3)
      • ►  July 2013 (1)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  March 2013 (2)
      • ►  February 2013 (1)
      • ►  January 2013 (5)
    • ►  2012 (13)
      • ►  December 2012 (1)
      • ►  October 2012 (2)
      • ►  August 2012 (2)
      • ►  July 2012 (2)
      • ►  June 2012 (1)
      • ►  May 2012 (1)
      • ►  April 2012 (1)
      • ►  March 2012 (1)
      • ►  February 2012 (1)
      • ►  January 2012 (1)
    • ►  2011 (27)
      • ►  December 2011 (1)
      • ►  November 2011 (1)
      • ►  October 2011 (1)
      • ►  September 2011 (1)
      • ►  July 2011 (3)
      • ►  June 2011 (4)
      • ►  May 2011 (3)
      • ►  April 2011 (4)
      • ►  March 2011 (2)
      • ►  February 2011 (7)

    Recent Posts

    Popular Posts

    • [Melancong] Waroeng Joglo – Wonosobo : Bangunan Jawa, Suasana Eropa
    • [Jepretan] Akhirnya.... DIENG !!! negeri di atas awan
    • Ulasan 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (atau kritik?)
    • MAHAKARYA SENI DAN TEKNOLOGI UNTUK MARITIM NUSANTARA

    Contact Us

    Name

    Email *

    Message *

    Followers




    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top