Frame of Dreams

    • Home
    • Travel
    • _Wonosobo
    • _Jogja
    • Portfolio
    • Photo Blog
    • Food
    • My Stories


    Finally, I have time to sit down and talk about this.

    Karena setelah pulang dari ibadah umroh, terkena flu dan awet flunya, akhirnya ssetelah 1-2 minggu agak mendingan dan bisa nyelesein ini tulisan.

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt. Saya diberikan kesempatan untuk berkunjung ke tanah haram Makkah dan Madinah.
    Sebenernya sangat tidak menyangka bisa duluan ke sini daripada ke negara-negara lain. And I'm so happy that I did.

    Memang waktu itu rezeki, waktu dan kesempatan lah yang membuatku semakin memantapkan niatku untuk segera berangkat. I don't know why, but I just did. Mungkin ini yang disebut panggilan hati :).
    Akhirnya berangkatlah saya beserta Bapak dan Ibu.
    Singkat cerita, setelah kumpul dan menginap satu malam di Jakarta, kami berangkat menuju Bandara dan take off sekita pukul 17.00 (delay, karena menunggu penumpang dari semarang yang pesawatnya juga delay)

    MADINAH



    Pertama kali menginjakkan kaki di tanah haram yaitu di Madinah. Dari biro ingin mengikuti jejak Rasulullah dalam melaksanakan haji/umroh, yaitu dari Madinah ke Mekah.
    Kami tiba di Madinah sekitar jam 2.00 AM dini hari waktu setempat. Dibimbing oleh muthawif (pembimbing umroh saat di Madinah-Mekah), kami langsung menuju Masjid Nabawi untuk sholat jama ta'khir Magrib-Isya.
    Jarak antara Hotel dengan masjid sekitar 100m-200 m, jadi tidak terlalu jauh berjalan kaki. Tapi karena masjidnya subhanallah besarnya, jadi dari gerbang ke dalam masjid juga sekitar 200 m lagi.

    Pertama kali melihat masjid nabawi diwaktu dini hari? It’s magical. Saya merinding dan speechless dan tidak bergerak for a good minutes setelah selesai sholat Magrib-Isya. MasyaAllah. Indah.


    Karena badan yang lelah setelah perjalanan 9 jam di pesawat dan ditambah berjam-jam di bandara sebelumnya, saya memutuskan langsung ke Hotel untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Kemudian kembali ke Masjid sekitar jam 4 untuk Sholat Subuh. Waktu Sholat Subuh di sana sekitar jam 5 pagi.

    FYI, untuk ikut sholat fardhu di sana (Makkah maupun Madinah) harus paling tidak 1-2 jam sebelum adzan. Kalau tidak, jangan harap bisa sholat di dalam masjid. Untuk di Nabawi, sekitar sebelum setengah jam sebelum adzan masih bisa di dalam kalau beruntung. Itupun di tempat yang tadinya jalan di dalam masjid, disekitar tempat air zam-zam. Kalau tidak ya sholat di serambi masjid. Jangan khawatir, di serambipun disediakan karpet dan tempatnya luas seluas lapangan.


    Jangan tanya kalau di Masjid Al-Haram Mekah. Jangankan mau masuk di bagian dalam sekitar ka'bah, di gerbang menuju bagian dalam ka'bah, sudah diusir sama polisi masjid. Kalau apes-apesnya menjelang adzan baru berangkat, bersiaplah sholat di pelataran atau bahkan bisa di jalanan (pengalaman pribadi LOL)

    Orang-orang datang ke Tanah Haram memang dengan berniat untuk ibadah. Tidak heran suasana di sana sangat damai, tentram. Orang-orang berlomba untuk cepat ke masjid, berlomba untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya.

    Pengalaman tidak terlupakan di Madinah adalah ketika di Roudhoh. Roudhoh untuk wanita seringnya dibuka waktu dhuha, karena sebenarnya tempatnya digunakan utuk sholat laki-laki.



    Orang-orang yang ingin ke roudhoh jangan di tanya, sangat bejubel. sehingga harus diatur untuk bergantian. Kami dipandu ustadzah Indonesia yang tinggal di Makkah untuk ke sana. Untuk ke sana harus mendaftar terlebih dahulu. Kami harus antri. Sewaktu, menunggu kami sholat dhuha atau membaca tilawah. Sewaktu menunggu giliran, antrian di depan kami sangat riuh sewaktu giliran mereka tiba. tidak jarang terjadi desak2an dan dorong-dorongan. Wanita-wanita asia dengan eropa di pisah antriannya untuk menghindari kerusuhan karena tinggi rata-rata yang berbeda.

    Setibanya waktu kami masuk, langunglah berebutan ke dalam roudhoh. Betapa tidak, kami hanya berjarak beberapa meter dari makam Rasulullah dan di sana merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdoa. Sebenarnya di dalam tidak memungkinkan untuk sholat dua roka'at. Namun MasyaAllah, saya bisa melaksanakan sholat di roudhoh dan ada seseorang yang menjaga tempat sujudku. Saya tidak bisa menahan tangis sewaktu sujud. Saya orang yang jarang sekali menangis, tapi waktu itu tangisanku tidak berhenti. Saya memberikan kesempatan untuk yang lain melaksanakan sholat di bekasku sholat, kemudian melanjutkan untuk berdoa. Mendoakan semua yang kita mau. Kami berdoa sambil berdiri. karena tidak memungkinkan berdoa sambil duduk. Ketika dirasa cukup, kami keluar. What a experience. Alhamdulillah.

    MEKAH


    Setelah beberapa hari di kota Madinah, kami berangkat ke Makkah untuk melaksanakan umroh.

    Dari hotel, kami sudah memakai pakaian ikhram. Kemudian mengambil miqat (dimulainya ibadah Haji/Umroh, harus mengenakan pakaian ikhrom dan memasang niat) di Masjid Bir 'Ali.

    Setelah mengambil miqot, kami menuju ke Mekah. Perjalanan sekitar 5 jam (kurang lebih 500 km). Sepanjang jalan benar-benar hanya batu dan pasir. Namun ada berkah di tengah perjalanan. Saya dan Ibu mengira suara rintikan di dalam bis dikarenakan suara aspal yang belum kering. sehingga kerikil atau batu-batu kecil aspal menimbulkan suara di badan bis. Namun setelah beberapa saat ternyata suara rintikan itu adalah suara gerimis hujan. Subhanallah. Allahumma shoyyiban nafi’an. Oh, iya, ngomong-ngomong soal suhu dan cuaca sepanjang di sana, it’s normal like in Indonesia. Sewaktu pagi sekitar 25 °C dan sewaktu dzuhur sekitar 37 °C. Sewaktu malam juga sekitaran 25 °C.

    Kamis sampai di Mekah sekitar waktu Isya. Bus Kami dilarang masuk komplek masjid karena masuk waktu sholat. Setelah waktu sholat berakhir, bus kami bisa masuk menuju Hotel kami. Saat menuju hotel. MasyaAllah, beribu-ribu orang berduyun-duyun pulang dari masjid. I'm speechless. It was my first time seeing this. And I's still in awe everytime I got out from mosque with thousand others till the last day I'm there.


    Setelah makan malam di hotel, kami menuju kamar untuk berwudhu (bagi yang telah batal wudhunya), kemudian menuju Masjidil Haram utnuk memulai umroh. Dengan dipandu muthowif, kami rombongan menuju pintu yang paling dekat dengan hotel. Kami sholat magrib-isya jama’ ta’khir terlebih dahulu.

    Kami sholat dengan ka’bah di depan mata kami. Setelah bertahun-tahun lamanya saya sholat dengan menghadap ka’bah yang sejauh beribu-ribu kilometer, kini dia di depan mata. My feelings at that time could not be expressed in words. Hanya bisa mengucapkan takbir, tasbih dan tahmid tanpa henti.

    Setelah melaksanakan sholat, kami mulai melakukan thawaf. Barisan dibentuk 5 baris, dengan laki-laki dibarisan luar dan wanita dibarisan dalam. Bersama dengan ratusan-ribuan orang lainnya, saya menjadi bagian perputaran itu.
    Setelah selesai, kami menuju tempat air zam-zam. Setelah mengucapkan doa,kami meminum air zam-zam kemudian menuju ke bukit Sofa untuk kemudian melakukan sa’i. Dengan semangat, kami berjalan/berlari kecil sembari mengucap do’a. Subhanallah, rasa kaki saya waktu itu luar biasa.😊

    Setelah sa’i selesai, kami mencukur sejumput rambut (tahalul) untuk mengakhiri ibadah umroh. Kami selesai sekitar pukul 2.00 dini hari.

    Kami kembali ke hotel untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Kemudian kembali ke masjid untuk sholat malam langsung berlanjut sholat subuh.





    NEXT DAY


    Hari-hari selanjutnya diisi dengan perbanyak ibadah di Masjidil Haram dan kemudian dilanjutkan umroh kedua dengan mengambil miqat di Ji’ronah. Umroh ini bisa untuk diri sendiri lagi, juga bisa untuk orang lain (satu orang).

    Hari selanjutnya lagi free kegiatan, dan kebetulan bertepatan hari jumat. Hari jumat adalah hari libur untuk warga lokal dan yang jelas hari full barokah. Di sana wanita mengikuti sholat jumat sebagai pengganti sholat dhuhur. Untuk sholat jumat, kami setidaknya harus ke masjid 2 jam sebelum waktu sholat jumat untuk mendapatkan tempat di dalam masjid. Karena tidak hanya jama’ah umroh yang akan banyak melaksanakan sholat jumat, namun juga warga lokal juga warga sekitar kota tetangga yang memang sengaja datang untuk melaksanakan sholat jumat. Kami berangkat dari hotel sekitar pukul 9.30. Alhamdulillah dapat tempat yang nyaman di dalam masjid. Kami perbanyak beribadah sholat sunnah dan tilawah (terutama Surah Al Kahfi dan Ar-Rahman).

    Waktu sholat Jumat tiba. Kami mendengarkan khutbah Jumat dengan bantuan dari channel radio translate live berbahasa Indonesia. Alhamdulillah.  Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

    Tak terasa hari berikutnya kami sudah akan meninggalkan tanah haram dan pulang ke tanah air. Kami menuju Bandara yang berada di kota Jeddah. Setelah berkejar dengan waktu, akhirnya kami masih dapat mengejar pesawat dan kemudian take off terbang menuju Ibu pertiwi. Sebagian besar rombongan mulai menunjukkan gejala batuk dan flu. Selama kami di Madinah dan Makkah, jiwa dan raga kami dikuatkan dengan dipenuhi Ibadah dan dzikir kepada Allah swt. Dan setelah selesai, baru raga kami mulai menampakkan kelemahannya, karena sungguh, jiwa dan hati ini sudah rindu kembali lagi ke Rumah-Mu.

    Maaf ya, Tulisannya puanjang sepanjang jalan tol. Dan ini belum diedit lagi. Makasih yang udah baca sampai selesai. See U.





    Continue Reading
    YEAY... Setelah menulis beberapa postingan tentang Wonosobo Series (bisa dilihat di postingan sebelumnya)  Akhirnya, nyampe di Yogyakarta Series !!! 

    Sebenernya, ada satu postingan lagi tentang Wonosobo yang saya tulis di Lomba JaringIde. Tapi karena udah pernah di posting di blog ini juga, langsung baca aja postingannya di SINI... OK?

    Yuk, lanjuuut... 
    Setelah beberapa postingan tentang tempat-tempat kece di Wonosobo, kita terbang yuk, ke Kota Pelajar alias Yogyakarta. Saya udah di sini sekitar 4,5 tahun. Bisa dibilang Jogja itu rumah kedua saya setelah Wonosobo. 

    Kayak logonya Jogja Berhati Nyaman, kota ini memang nyaman. Buktinya aja ribuan perantau dari berbagai penjuru tanah air betah tuh di sini (apa terpaksa ke sini buat sekolah ya? kagak tau deh). Yang jelas banyak yang jatuh cinta sama Jogja dan gak mau balik lagi ke kampung halaman. Banyak wisatawan ato orang luar Jogja yang dateng ke Jogja juga merasakan hal yang sama. 

    Saya pernah baca postingan seorang blogger asal Jambi, namanya Ahmad Firdaus yang pernah ke Jogja dan nulis begini :

    "Di Jogja gue melihat hal yang unik. Sebuah kota yang rata-rata jalan rayanya kecil, tapi rame. Rame tapi nggak macet. Nah, gimana tuh? pokoknya lo dateng aja deh ke Jogja. Namanya juga Daerah Istimewa. Disana makanannya juga murah-murah. Makan Nasi + Ayam 2 + Es Teh cuma 13 rebu. Pantas aja teman-teman gue yang ngekost di Jogja pada sehat sentosa. " (http://madz666.blogspot.com)

    Wait. kita ulangi ya... 
    "Jalan rayanya kecil, tapi rame, tapi gak macet." 

    Itu pegimane maksudnye? Kok Bisa? 
    Bisaa... inilah yang disebut tepa slira alias tenggang rasa. Coba, di kota besar mana kamu nemuin kalo motor dari perempatan mau nyebrang, terus mobil ato motor yang dari jalan utama, tiba-tiba berhenti terus tangan mereka mempersilahkan seakan berkata "Monggo, silahkan jalan duluan." ? Jarang banget ada yang kayak gitu kecuali di Jogja. Setahu saya, kalo di kota gedhe kebanyakan pengendara asal nyrobot dan gak mau kalah. 

    Tapi akhir-akhir ini di Jogja juga lambat laun jadi jarang nemuin tepa slira, jalanan tambah rame seiring banyak yang beli mobil sama motor. Dan mulai banyak yang pake rumus penyerobotan. Hiks, sedih... T_T

    Terlepas dari itu semua, beneran deh! Berdasarkan pengalaman sayah yang juga seorang perantau dari kota lain, Jogja itu emang nyaman. Dari orangnya yang masih ramah, fasilitasnya yang lumayan lengkap, budayanya yang masih terjaga, makanannya yang murah sampai objek wisata yang bejibun saking banyaknya. Enyak, enyak.... 

    Kalo lagi suntuk pengen maen, banyak banget tempat buat sekedar melepas stres, ato cari tempat buat hunting foto-foto bagus. Salah satunya ini nih...

    Taman Sari




    Saat selir sedang mandi, di tempat istimewa di lantai atas, sang raja melihat selir-selir tersebut dan memilih salah satu yang 'beruntung' untuk menemani Raja pada malam harinya....(ahem ahem) #apasih -_-

    Ya, Taman Sari adalah sebuah tempat yang dulunya tempat pemandian para selir kerajaan. Terletak di sekitar Keraton Yogyakarta. Tempat ini sekarang menjadi salah satu objek wisata di Yogyakarta.
    Tiket masuknya sekitar Rp.6000 saja. Kalo mau dapat objek bagus buat motret, tempat ini bisa jadi salah satu pilihan. Yuk, intip sedikit ke dalem...


    Taman Sari (1)

    Taman Sari (3)

    Bangunannya indah banget apalagi kalo suasana lagi cerah. Kolam pemandiannya pun jadi keliatan cakep. Langsung tancap deh, jeprat jepret. Hehe...


    Taman Sari (4)


    Di Balik Tembok Taman Sari

    Eits, namanya emang di Balik Tembok Taman Sari, tapi ini bukan cerita mistis, ato terselubung gitu loh yah... 
    -Terus mau bahas apanya dong? 
    -Sabar, sabar, makanya lanjutin baca.. 

    Kalau kamu ke Taman Sari, jangan hanya berhenti di tempat pemandiannya aja. Di Belakang Taman sari juga ada sebuah perkampungan yang terlalu bagus buat dilewatin! 


    Taman Sari part 2 (2)

    Namanya Kampung Cyber, karena warganya sudah 'melek' teknologi katanya.
    Banyak hal yang saya temui di sana. Yang pertama terlintas di pikiran saya adalah : WOW, kampungnya indah.


    Taman Sari part 2 (3)

    Beneran. Karena kampungnya tertata rapi. Ada beberapa galeri seni, cafe dan dindingnya yang dilukis batik, corak khas Jogja, Galeri seninya pun di tata sedemikian rupa. Jadi para pengunjung sangat nyaman berjalan di kampung ini, sambil melihat galeri seni di sepanjang gang perkampungan. Warganya terlihat ada yang sedang membatik, membuat wayang dan melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menarik perhatian para pengunjung seperti saya. Bener-bener dah, betapa bahagianya dapet objek bagus.. *nari-nari 


    So, yang masih di luar,  mari merapat ke mari... :3


    Taman Sari part 2 (1)

    Taman Sari part 2 (4)

    Taman Sari part 2 (6)

    Taman Sari part 2 (5)

    Segitu dulu deh... Maap kalo tulisannya kali ini agak kacau. Hehe... Ada juga postingan tentang Objek di Jogja yang lain loh... Mampir aja ke SINI. See ya... ! :)
             

    Continue Reading

    Namanya keren : WONOSOBO SQUARE. Tapi nama sebenarnya : Alun-Alun Wonosobo...

    Ya Alun-alun.. tempat nongkrong klasik dari jaman baheula sampai sekarang... Yah, emang sih, sekarang lebih banyak tempat nongkrong buat kawula muda. Tapi alun-alun tidak pernah sepi pengunjung. Semua kalangan dari segala umur masih suka tuh main ke sini. Entah cuma mengisi sore hari, olahraga di pagi hari dan masih banyak yang bisa dilakuin di sini.

    Namanya aja alun-alun, pastinya lokasinya di pusat kota. Biasanya digunakan buat mengadakan acara seperti upacara besar kayak 17an, ulang tahun kota sampai acara-acara festival.

    Ngomong-ngomong tentang alun-alun, hampir semua kota di Indonesia paling tidak memiliki alun-alun. fungsinya pun kurang lebih satu dengan yang lainnya. Tapi Alun-alun di Wonosobo itu ada yang beda sob...

    Nah, apa aja yang istimewa dari Alun-alun Wonosobo ini?

    Yang pertama, desain Arsitekturnya. Arsitektur taman dan jalan di sekeliling alun-alun didesain khusus. Gak tanggung-tanggung. Katanya (katanya sih) arsiteknya khusus dari Jerman LHO... Entah harus seneng ato sedih dengernya. Keren sih.. tapi kalo kayak gini terus kapan kita bisa bangga sama hasil karya anak bangsa? (Tumben gue lumayan keren)


    Wonosobo Square (11)
    (spanduknya ganggu -___-)

    Wonosobo Square (2)


    Yang kedua kebersihannya, jangan khawatir terganggu oleh sampah yang biasa 'nongol' di tempat umum di Indonesia. Alun-alun ini dijamin bersih. Jadi nyaman untuk para pengunjung baik wisatawan maupun warga lokal, bahkan murud-murid sekolah di sekitar situ yang biasa meminjam lapangannya untuk berolahraga.

    Wonosobo Square (3)

    Yang ketiga fasilitasnya. Banyak fasilitas yang bisa dinikmati. Antara lain pedagang di sekitar alun-alun yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Biasanya pengunjung sengaja ke Alun-alun untuk sekedar makan sambil menikmati suasana di Alun-alun. Selain itu ada berbagai permainan yang dapat dilakukan di sana. Ada sepeda 'Couple', Ottoped, dan masih banyak lagi. Jadi pengunjung bisa menikmati fasilitas tersebut untuk mengelilingi Alun-alun. Bermain gelembung juga menjadi salah satu pilihan favorit pengunjung. Jadi bisa agak-agak romantis, mainan gelembung kayak di pidio klip gitu dah.. :3


    Wonosobo Square (10)

    Wonosobo Square (8)

    Wonosobo Square (7)

    Oh, ya.. bukan hanya warga lokal yang menjadi pengunjung Alun-alun. Para wisatawan Dieng juga biasanya menyempatkan diri buat mampir ke Alun-alun ini. Biasanya tujuannya dua. Sight seeing dan WISATA KULINER... YEAH.. #NyamNyam

    Nah, itu sekelumit tentang Alun-alun Wonosobo. Gimana menurut kalian? Keren kah atau biasa aja? Soalnya beberapa kali saya melewati atau mengunjungi kota lain, alun-alunnya gak ada yang menandingi kerennya alun-alun ini. Hehe...
    Kalau Alun-alun di kotamu lebih keren dari ini, bisa share di comment box yak... See ya... :)


        Wonosobo Square (6) 

    Wonosobo Square (4)  
    background pemandangannya GUNUNG! kurang keren apa coba...



    Continue Reading
    Petualangan di Wonosobo berlanjut... Yuk Capcyuss...

    Next Destination : Telaga Warna



    Objek ini salah satu tempat yang lumayan 'WAJIB' dikunjungi oleh para pengunjung Dieng. Letaknya kurang lebih sekitar 5-10  menit dari objek wisata Candi Arjuna kalau pakai kendaraan.


    Kenapa namanya Telaga Warna?

    Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi di tempat ini yaitu berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar Matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Anda bisa menyaksikan di tengah telaga terdapat letupan air mendidih seperti yang ada di Kawah Putih (Jawa Barat).
    Keberadaan Telaga Warna Dieng juga sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka menggunakannya sebagai sumber irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama di kawasan ini. 
    (sumber : http://www.indonesia.travel/id/destination/804/telaga-warna-dieng)

    Afternoon Shadows at Colour Lake

    Waktu itu saya ke sana sore hari... Suasananya DINGIN as always.. Tapi agak hangat dengan terpaan sinar matahari yang mulai tenggelam...
    And.. This is what makes me completely jaw drop....


    DSCF8532

    See?

    Ya, saya pernah ke telaga warna waktu pagi, siang dan sore hari. Telaga Warna dalam berbagai suasana, tetap mempesona. Matahari sore menyinari permukaan Telaga hingga menciptakan warna-warna indah dengan bayang-bayang bukit di sekelilingnya... Sinar matahari sore itu pun menembus celah-celah pepohonan di sekitar telaga, membuat setiap orang yang berjalan di sekitar telaga merasakan kehangatannya...


    Two Seasons of Colours Lake

    Selain berbagai cuaca dan waktu, kebetulan saya ke Dieng juga melalui musim yang berbeda, jadi suasananya juga berbeda. Perbedaan itu bisa terlihat lebih jelas dengan Telaga Warna ini. Perbedaannya bisa dilihat di foto ini.


    Telaga Warna (1)

    Waktu saya ke sana musim kemarau, air Telaga tidak sampai di pinggir danau. Jadi saya dan teman-teman bisa di bilang 'masuk' ke danau. Saya merasakan seperti menginjak tanah yang lunak dan empuk. Sebenarnya kondisi ini belum lama terjadi. Dulu, waktu musim kemarau pun, air di danau tidak menyusut sebegitu signifikan. Tetapi karena beberapa kerusakan alam, akhirnya berimbas juga pada kondisi danau hingga menyusut seperti itu. How sad.. :(

    Pada musim hujan, air danau penuh sampai ke pinggir danau. Seperti melihat danau seperti biasanya... Warna danau-nya pun lebih cerah... Suasana waktu saya ke sana waktu itu juga saat musim liburan, jadi lumayan ramai.

    Selain menikmati danau, di Telaga Warna ini pengunjug bisa berjalan di jalan sekeliling danau, menikmati pemandangan danau dan hutan. Jalan setapaknya pun mantap indahnya,... Pengunjung juga bisa mencoba Flying Fox melintasi danau. Patut dicoba!


    DSCF9019


    Telaga Warna (5)


    Bonus : TELAGA PENGILON

    Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Padahal yang  membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Itulah kenapa dinamakan 'PENGILON' atau dalam Bahasa Indonesia berati CERMIN. Karena permukaannya yang bening sampai bisa buat ngaca lho... 


    (source : http://www.diengindonesia.com/2012/10/telaga-warna.html)
     

    Continue Reading
    Well, saya nulis ini dalam tiga post sebenernya. Tapi di sini saya jadiin satu. Yah, biar gak ribet aja gitu :p

    Yuk mari kita mulai...

    Di postingan sebelumnya sudah saya ajak ke beberapa tempat yang asyik sebelum ke Dieng. Nah, kali ini FINALLY, sampailah kita di Dataran Tinggi Dieng. Welcome guys...

    Kalau denger kata Dieng, yang pertama kali terlintas di pikiran adalah kompleks candinya yaitu Kompleks Candi Arjuna.

    Candi Arjuna? Apa itu? Ini nih :

    Candi Arjuna merupakan salah satu bangunan candi di Kompleks Percandian Arjuna, Dieng. Di kompleks ini juga terdapat Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Candi Arjuna terletak paling utara dari deretan percandian di kompleks tersebut. Sementara itu, Candi Semar adalah candi perwara atau pelengkap dari Candi Arjuna. Kedua bangunan candi ini saling berhadapan.
    Seperti umumnya candi-candi di Dieng, masyarakat memberikan nama tokoh pewayangan Mahabarata sebagai nama candi.
    Sumber : WikiPedia

    Sebagai warga Wonosobo, saya sudah ke Dieng beberapa kali (emang apa hubungannya? -_-). Entah kenapa waktu saya ke sana suasananya pasti beda. Mendung, panas, sampe hujan. Then, muncullah ide nulis tentang Candi Arjuna ini dalam tiga cuaca deh...

    Cekidot...

    1. The Romantic-Cloudy Arjuna


    (miss focus, hehe blm tahu menahu waktu itu :p)

    Tiga candi utama berjajar rapi dengan latar belakang bukit-bukit yang tertutup awan. Satu kata : romantis


    Arjuna (9)

    Waktu pertama kali ke Dieng bersama teman-teman (sekitar th 2011), cuaca pada saat itu mendung. Kami sempat pesimis waktu berangkat, takut nanti sampai di Dieng malah hujan. Tapi kecemasan kami sirna waktu menapakkan kaki pertama kali di sana. Suasananya memang mendung, tapi juga tidak terlalu gelap. Itu artinya, ROMANTIS... hehe.



    Arjuna (6)

    Arjuna (8)

    Kami langsung meluncur menuju Kompleks Candi Arjuna. Waktu itu bukan musim liburan. Jadi sepi, hanya rombongan saya lima orang, dan satu lagi rombongan lain. Tapi di situlah asyiknya. Jadi serasa milik sendiri, Hihihi.. saya dan teman-teman bisa guling-guling di rumput sekitar candi, dan menikmati pemandangan yang LUAR BIASA CANTIKNYAA...

    Hanya satu yang kurang.... 

    Pasangan HIDUP....  #UHUK  #CurcolTingkatKabupaten



    2. The Sunny Arjuna

    Arjuna (3)


    Saya kembali ke dieng saat liburan lebaran tahun lalu (2012). Arjuna kali ini cerah, terang benderang. Dan yang pasti, ramai banget ! Sampai ada pasar dadakan juga. Maklum, saat itu banyak keluarga yang datang dari luar kota dan pasti pengen ke Dieng. 

    Arjuna (1)

    Suasananya jelas beda waktu pertama kali ke sana. Selain ramainya, banyak hal baru yang tidak saya temukan waktu pertama dulu. Banyak penjual cinderamata dan ada beberapa talent berpakaian tradisional untuk pertner berfoto. Jadi yang pengen foto bareng, cuma dengan 5 ribu rupiah, bisa langsung foto dengan abang-abang berpakaian tradisional ! 


    Arjuna (2)

    3. The Rainy Arjuna

    Kali ini saya datang ke Dieng, dan tiba-tiba HUJAN !
    Saat sedang menemani beberapa teman yang sedang liburan ke Dieng, seperti biasa tujuan pertama adalah Candi Arjuna. Baru beberapa menit setelah menikmati suasana di sana, BRES... Hujan turun lumayan lebat.


    Arjuna (5)

    Sontak para wisatawan, para penjual, para abang-abang yang yang berpakaian tradisional lengkap, tak lupa juga abang-abang berpakaian teletubies (IYA, TELETUBIES), langsung capcus mencari tempat berteduh.

    Waktu para abang-abang teletubies itu mencari tempat beteduh, saya sempat geli lihatnya. Soalnya, dengan pakaian yang 'gemuk' itu, mereka berdesakan dalam satu payung terus lari-lari, tapi gak bisa cepat karena kostum yang lumayan bikin repot itu. Kalau dilihat dari belakang, lucu banget. Hihihi.


    Tapi sayang, saya lupa ambil gambarnya,... Dan yang bisa saya capture saat hujan itu cuma beberapa gambar. 


    Hujan memang sesuatu yang bukan kami harapkan waktu itu. Ditambah, hampir semua lokasi wisata di Dieng itu outdoor. Dan yang paling jelas, DINGIN BANGET ! Sumpah, kaki kami sampai menggigil.



    Arjuna (4)

    Tapi, hujan memang membawa berkah. Setelah dari candi Arjuna, kami mencari tempat makan tak jauh dari situ. Kami pesan teh hangat, jahe hangat dan sepiring tempe kemul, makanan khas Wonosobo... Sambil menunggu hujan reda dan melanjutkan ke tujuan wisata selanjutnya, kami menikmati teh dan jahe hangat sambil berbincang dan menikmati suara hujan yang damai di luar sana. Sekali lagi ada pengalaman baru. :)

    DIENG, dengan berbagai cuaca dan suasana, tetap memberi kesan yang mendalam. Dari cuaca hujan sampai cerah, bisa kita nikmati dengan berbagai cara juga.... 


    Tertarik?


    FYI : All photos taken from pocket camera
    Continue Reading
    Ada satu lagi nih, jangan ketinggalan mampir ke tempat ini juga kalo ke Wonosobo...


    Yap, Kebun teh...

    Ada beberapa perkebunan teh yang ada di Wonosobo. Salah satunya Kebun Teh di kawasan Agrowisata Tanjungsari. Kebun Teh ini letaknya lumayan jauh dari Dieng. Yaitu di daerah Sapuran, perbatasan dengan Purworejo. Tapi pemandangan dan suasana yang disuguhkan gak bakal bikin nyesel!


    Tambi TS (3)


    Di sini kita bisa menghirup udara segar, bisa sambil nge-teh atau menggunakan fasilitas lain seperti wahana-wahana permainan. Dan, ada kolam renangnya juga lho... Silahkan, yang mau renang, kalo gak kedinginan, hihi...

    Bisa juga hanya duduk-duduk di gubuk bambu sambil menikmati pemandangan kebun teh yang menyejukkan mata dan pikiran... 


    Tambi TS (5)

    NOTE:

    Selain Kebun Teh Tanjungsari, ada Kebun Teh Tambi yang letaknya dekat dengan Dieng yaitu di daerah Kejajar, tepatnya jalur menuju Dieng. Kebun Teh Tambi ini paling terkenal diantara kebun teh lainnya.. Jadi, Kebun Teh Tambi ini juga MOST RECOMENDED PLACE :)
    Continue Reading


    Ada yang tahu di mana Wonosobo? Yang tahu angkat tangannyahh!!!

    *dan kemudian hening 

    Saat ini ceritanya saya sedang merantau, menimba ilmu #eaaa dan saat saya menyebutkan daerah asal saya itu, banyak yang nggak tahu. Bahkan ada yang tanya itu di Jawa ato bukan.. 


    Tapi akhir-akhir ini Wonosobo mulai banyak di kenal khalayak. Terima kasih untuk FTV-FTV yang beberapa waktu yang lalu setting-nya emang di Wonosobo, terima kasih juga buat acara-acara travel yang beberapa kali meliput Wonosobo... #seneng 



    Nah. Singkatnya, Wonosobo adalah sebuah kabupaten kecil yang terletak di barat daya Kabupaten Temanggung dan utara Kabupaten Kebumen. Lebih jelasnya bisa lihat peta sonoh... hehe..

    Lokasi Wonosobo dilihat dari Peta Jawa Tengah


    Peta Wonosobo dengan lokasi objek wisata.


    Walau tergolong Kabupaten yang kecil, Wonosobo menyimpan banyak potensi lho, di antaranya di bidang Pariwisatanya. Mulai dari tempatnya yang indah, kuliner yang beragam sampai tanaman khas yang hanya bisa ditemui di sini. 

    Kalau bilang Wonosobo, pasti gak jauh dari kata DIENG. Iya, DIENG... walau sebagian besar Dieng milik Kabupaten sebelah yaitu Banjarnegara, namun kebanyakan wisatawan menggunakan akses dari Wonosobo untuk sampai ke Dieng dan banyak juga yang masih menganggap Dieng itu ya Wonosobo... Perjalanan dari Kota Wonosobo sampai ke Dataran Tinggi Dieng kurang lebih 1-2 jam. 

    Eits, sabar dulu... sebelum sampai di Dieng, banyak juga lho objek-objek ciamik yang bisa dikunjungi di sepanjang jalan menuju Dieng... DIJAMIN GAK NYESEL BRO... 



    Diantaranya adalah Telaga Menjer, sebuah danau yang terletak di Kecamatan Garung. Daerah ini juga merupakan jalur yang dilewati wisatawan apabila ke Dieng. Jadi sembari menyelam, kita minum air di Telaga Menjer yuk ! :P


    Menjer (1)

    Airnya yang bening dan suasana yang sejuk membuat pikiran jadi rileks. Pengunjung juga bisa menaiki perahu untuk keliling danau. Waktu saya liatin foto menjer ke temen-temen, pada langsung jatuh cinta sama tempat ini dan pengen ke sana. Kayak lukisan katanya..



    Menjer (4)

    Menjer (5)

    Tarif masuknya tergolong murah dari 3 - 5 ribu rupiah.
    Untuk sewa perahu kita bisa patungan dengan rombongan agar lebih murah bayarnya, satu perahu berkisar 60-100 ribu, tinggal pinter-pinter tawar-menawar sama abangnya aja... 


    This is REALY REALY MUST VISIT PLACE..


    source map : http://wonosobocommunity.blogspot.com/2010/03/peta-wonosobo.html    

    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    hestylukita
    Dreamer

    A Daughter, A Sister, A Dreamer. Penyuka Fotografi, Penyuka Hijau. Kadang pendiam, kadang serius, kadang 'menggila'. Read More

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Facebook Page

    Labels

    My Stories artikel dieng food food series jogja kaliwiro kampung korean food kuliner kuliner jogja photography photos review traveling wonosobo

    Blog Archive

    • ▼  2021 (1)
      • ▼  February 2021 (1)
        • 7 Café di Jogja - Ivy Coffee
    • ►  2020 (1)
      • ►  October 2020 (1)
    • ►  2019 (3)
      • ►  December 2019 (1)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  August 2019 (1)
    • ►  2018 (1)
      • ►  July 2018 (1)
    • ►  2017 (1)
      • ►  November 2017 (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  October 2015 (1)
      • ►  May 2015 (2)
    • ►  2013 (18)
      • ►  December 2013 (1)
      • ►  November 2013 (3)
      • ►  October 2013 (1)
      • ►  September 2013 (3)
      • ►  July 2013 (1)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  March 2013 (2)
      • ►  February 2013 (1)
      • ►  January 2013 (5)
    • ►  2012 (13)
      • ►  December 2012 (1)
      • ►  October 2012 (2)
      • ►  August 2012 (2)
      • ►  July 2012 (2)
      • ►  June 2012 (1)
      • ►  May 2012 (1)
      • ►  April 2012 (1)
      • ►  March 2012 (1)
      • ►  February 2012 (1)
      • ►  January 2012 (1)
    • ►  2011 (27)
      • ►  December 2011 (1)
      • ►  November 2011 (1)
      • ►  October 2011 (1)
      • ►  September 2011 (1)
      • ►  July 2011 (3)
      • ►  June 2011 (4)
      • ►  May 2011 (3)
      • ►  April 2011 (4)
      • ►  March 2011 (2)
      • ►  February 2011 (7)

    Recent Posts

    Popular Posts

    • [Melancong] Waroeng Joglo – Wonosobo : Bangunan Jawa, Suasana Eropa
    • Ulasan 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (atau kritik?)
    • [Jepretan] Akhirnya.... DIENG !!! negeri di atas awan
    • MAHAKARYA SENI DAN TEKNOLOGI UNTUK MARITIM NUSANTARA

    Contact Us

    Name

    Email *

    Message *

    Followers




    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top